Opini

Halal bi Halal; Ukhuwah Kita

Aceh merupakan daerah yang kaya akan tradisi dan adat istiadat. Sebagian tradisi tersebut ada yang murni

Halal bi Halal; Ukhuwah Kita
IST
Iskandar Usman Al-Farlaky, S.HI, Ketua Fraksi Partai Aceh DPR Aceh

Oleh Iskandar Usman Al-Farlaky, S.HI, Ketua Fraksi Partai Aceh DPR Aceh

Aceh merupakan daerah yang kaya akan tradisi dan adat istiadat. Sebagian tradisi tersebut ada yang murni ada pula yang telah disusupi oleh nilai-nilai keagamaan. Hal tersebut wajar saja, mengingat bahwa Aceh digelari sebagai daerah Serambi Mekkah, baik dalam pelaksanaan syariat Islamnya maupun dalam sisi sosial kehidupan masyarakatnya yang penuh dengan nilai-nilai keislaman.

Salah satu tradisi dan adat istiadat yang sedang “nge-trend” dalam setiap momen Hari Raya Idul Fitri atau dalam bulan Syawal seperti saat ini adalah tradisi “Halal bi Halal”.

Secara etimologi (bahasa) makna dari kata halal bi halal tidak akan kita temukan baik dalam kamus bahasa Arab klasik maupun modern. Oleh karena itu, makna kata halal bi halal tidak bisa diterjemahkan secara bahasa, dan dia tidak terdapat dalam gramer bahasa Arab karena jelas kata-kata tersebut bukan lahir dari kultur bangsa Arab, namun itu murni “made in Indonesia”. Lafadz “halal” berasal dari bahasa Arab yang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia, yaitu lawan dari kata “haram”.

Halal mempunyai arti boleh atau tidak dilarang, sedangkan kata “bi” adalah huruf jar yang biasa diartikan “dengan”. Secara bahasa halal bi halal dapat diartikan “boleh dengan boleh”. Sedangkan secara istilah (terminologi) halal bi halal dapat dimaknai kegiatan saling maaf-memaafkan pada saat hari raya Idul Fitri setelah bulan Suci Ramadhan dengan saling berkunjung ke tempat sanak saudara, rekan kerja, dan lain sebagainya.

Keterangan Prof Dr Quraish Shihab, Mufassir kondang Indonesia dan guru besar tafsir UIN Syarif Hidayatullah menyebutkan bahwa istilah halal bi halal adalah bentuk kata majemuk yang pemaknaannya dapat ditinjau dari dua sisi: sisi hukum dan sisi bahasa. Pada tinjauan hukum, halal adalah lawan dari haram. Jika haram adalah sesuatu yang dilarang dan mengundang dosa, maka halal berarti sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa.

Dengan demikian, halal bi halal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.

Sejarahnya
Sejarah halal bi halal itu sendiri menurut hemat penulis, telah lahir dan hidup begitu lama serta mengakar dalam budaya masyarakat Aceh secara khusus. Meskipun dalam kultur masyarakat Indonesia secara umumnya, lahirnya kata halal bi halal ini terdapat ragam beda referensi, ada yang menyebutkan karena permintaan Presiden Soekarno kepada pendiri ulama NU KH Wahab Chasbullah untuk melaksanakan sebuah kegiatan yang dapat menyatukan seluruh elemen bangsa Indonesia, apalagi momennya saat itu Ramadhan dan menjelang Lebaran Idul Fitri.

Dan ada pula referensi yang menyebutkan bahwa sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu pada zaman Hindia-Belanda kata halal bi halal ini sudah lahir dan menjadi tradisi bagi masyarakat Muslim Jawa.

Namun dalam tulisan ini, penulis lebih tertarik mengambil rujukan dari literasi sejarah adat istiadat masyarakat Aceh kita. Asal usul kegiatan halal bi halal ini sebenarnya sudah menjadi budaya yang sangat mengakar kuat dalam kehidupan endatu/nenek moyang kita bangsa Aceh sejak zaman kerajaan dulu.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved