Opini

Halal bi Halal; Ukhuwah Kita

Aceh merupakan daerah yang kaya akan tradisi dan adat istiadat. Sebagian tradisi tersebut ada yang murni

Halal bi Halal; Ukhuwah Kita
IST
Iskandar Usman Al-Farlaky, S.HI, Ketua Fraksi Partai Aceh DPR Aceh

Bahkan, dalam Qanun Meukuta Alam yang disusun dan dirancang pada masa Kesultanan Aceh Darussalam (Sulthan Iskandar Muda), disebutkan bahwa setelah melewati bulan Suci Ramadhan, sebagai penyempurna ibadah puasa kita, dianjurkan masyarakat untuk saling mengunjungi kerabat, sanak saudara untuk bersilaturahmi, saling bermaaf-maafan jika ada hubungan yang renggang atau bahkan untuk mengeratkan hubungan yang baik.

Meskipun dalam kitab Qanun Meukuta Alam tidak disebutkan penggunaan kata halal bi halal tersebut secara khusus, bisa jadi karena pada masa itu belum dicetus lahirnya peralihan bahasa Arab ke bahasa daerah yang secara khusus bagian itu. Hanya saja makna dan maksud tujuannya sama, yaitu mengeratkan silaturahmi.

Ukhuwah kita
Tak dapat dipungkiri, dalam alur kehidupan di dunia ini setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, kesilapan, dan dosa. Maka, selalu dianjurkan agar manusia setiap hari, setiap waktunya memohon ampunan pada Rabb Yang Maha Pengampun baik dengan istigfar maupun dengan berbuat kebaikan dan beribadah.

Sedangkan dengan manusia, Allah dan Rasul-Nya menyampaikan bahwa kita harus saling bermaaf-maafan. Meminta maaf dan memaafkan. Salah satu jalan untuk terwujudnya sikap tersebut adalah dengan bersilaturahmi.

Silaturahmi mengantarkan umat manusia untuk mengokohkan ukhuwah di antara sesamanya. Ukhuwah itu sendiri bermakna persaudaraan, dan persaudaraan merupakan fondasi iman yang paling agung setelah aqidah yang diperjuangkan oleh Rasulullah di awal-awal kemulian Islam lahir.

Saling memaafkan dan menyambung tali silaturahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam. Setiap saat umat Islam harus mengindahkan ajaran ini tanpa memandang hari dan momen tertentu. Jadi, tidak terbatas saat Idul Fitri saja.

Bahkan, secara tegas Allah Swt dalam Alquran menyebutkan akan melaknat orang yang memutuskan tali persaudaraan: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad: 22-23).

Rasulullah juga menyabdakan yang artinya, “Tidak ada dosa yang pelakunya lebih layak untuk disegerakan hukumannya di dunia dan di akhirat daripada berbuat zalim dan memutuskan tali persaudaraan” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).

Betapa pentingnya memelihara hubungan persaudaraan agar tidak kusut, sampai-sampai Allah dan Rasul-Nya menegaskan laknat besar sebagai ganjaran bagi pemutus tali silaturrahmi. Bahkan urgensitasnya tampak begitu jelas manakala memelihara silaturahmi ini dikaitkan dengan keimanan seorang Muslim. Seperti dalam hadits, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka sambunglah tali silaturahmi “ (HR. Al-Bukhari).

Kegiatan ini juga sangat banyak nilai positifnya bagi kehidupan duniawi. Rasulullah menyabdakan, “Siapa saja yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved