Citizen Reporter

Mempererat Silaturahmi Sesama Aceh di Bangkok

saya sudah berhasil mendata keberadaan warga Aceh di Bangkok, Thailand, baik yang sedang bekerja maupun

Mempererat Silaturahmi Sesama Aceh di Bangkok
IST
BOBBI KAMARUZZAMAN bin WAHAB, Ketua PPLN MUQ Langsa tingkat Asean, Owner International Connection dan Community Operation Specialist (COS) di TDT Bangkok, melaporkan dari Bangkok, Thailand

OLEH BOBBI KAMARUZZAMAN bin WAHAB, Ketua PPLN MUQ Langsa tingkat Asean, Owner International Connection dan Community Operation Specialist (COS) di TDT Bangkok, melaporkan dari Bangkok, Thailand

ALHAMDULILLAH, saya sudah berhasil mendata keberadaan warga Aceh di Bangkok, Thailand, baik yang sedang bekerja maupun yang sedang melanjutkan pendidikan.

Teman ekspatriat asal Aceh yang sekantor dengan saya berjumlah tujuh orang. Ini menandakan lumayan ramai orang Aceh di sini. Menurut saya, sudah selayaknya di Bangkok juga dibentuk paguyuban komunitas Aceh seperti di daerah-daerah lain. Sebut saja misalnya, TARSA-IIUM di Malaysia, termasuk salah satu organisasi yang aktif di kalangan pelajar di daerah Gombak, Kuala Lumpur. Oleh karena itu, saya berharap di Bangkok pun ada komunitas Aceh agar dapat memudahkan silaturahmi antarsesama warga Aceh di rantau.

Dengan menanyakan melalui Facebook dan juga dengan silaturahmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, saya berhasil bertemu dengan beberapa warga Aceh lainnya di Thailand, baik mereka yang sedang bekerja, maupun yang sedang melanjutkan studinya di Thailand.

Akhirnya kami pun membuat grup WhatsApp (GWA) agar memudahkan berkomunikasi.

Setelah berdiskusi di dalam GWA yang kami namakan “Komunitas Aceh Bangkok”, kami pun sepakat untuk bertemu. Salah satu jalur pertemuan yang kami rintis adalah dengan berbuka puasa bersama seperti kami lakukan pada Minggu, 19 Mei 2019 lalu di salah satu restoran halal di Silom Complex, Bangkok.

Alhamdulillah, walaupun berada di negara yang masyarakat muslimnya hanya 4,29 %, tapi kami masih bisa berkumpul untuk silaturahmi dengan masyarakat Aceh seperantauan dan masih diberikan kemudahan dalam memilih makanan yang halal.

Untuk saat ini, kami masih tetap menamakan komunitas ini dengan Komunitas Aceh Bangkok (KAB) dan kami berharap bisa secepatnya mendirikan organisasi Aceh yang resmi di Thailand agar memudahkan segala kegiatan yang diadakan di sini nantinya.

Thailand merupakan salah satu negara Asia Tenggara pilihan favorit para wisatawan untuk berlibur, khususnya Bangkok, Pattaya, dan Phuket. Saya dan teman-teman sangat berharap Aceh juga akan menjadi salah satu tujuan wisata islami terfavorit di Asia Tenggara di kemudian hari.

Thailand bukanlah negara syariat Islam, tapi banyak hal yang bisa kita pelajari dari negara yang dikenal dengan julukan Negeri Gajah Putih atau The Land of White Elephant ini. Mulai dari pengembangan destinasi, kemudahan akses antarobjek wisata, suvenir, hingga informasi tentang objek wisata. Untuk semua aspek ini, Thailand terlihat lebih unggul.

Perlu kita ketahui bahwa Thailand sangat serius dalam menggarap setiap kelengkapan informasi wisata tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa informasi tentang objek wisata adalah kekuatan terbesar pariwisata Thailand.

Beberapa bulan lalu, saya juga sempat menghadiri Forum Pariwisata Thailand Ke-7 yang diadakan di salah satu hotel berbintang lima di Bangkok. Forum tersebut dihadiri lebih dari 650 orang ahli perhotelan. Salah satu pembicara utama dalam forum ini ialah Srettha Thavisin, President Thai Hotel dan Real Estate Developer Sansiri. Dia menyebut bahwa wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Thailand pada tahun 2018 sebesar 38.27 juta orang. Hal ini berbanding jauh dengan jumlah wisman yang datang ke Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman yang datang ke Indonesia hanya 15,81 juta orang.

Oleh karena itu, harapan kami dengan adanya komunitas Aceh di sini kami dapat membantu Pemerintah Aceh dalam mengembangkan objek wisata di Aceh dengan cara studi banding ke Thailand, mengingat perusahaaan saya dulu juga pernah menerjemahkan salah satu proyek Kementerian Pariwisata Thailand dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia melalui sebuah travel di Bangkok. Dengan demikian, Aceh akan menjadi tujuan wisata islami terfavorit di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Insyaallah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved