Empat Bangunan Terbakar di Bireuen

Empat bangunan yang terdiri atas dua rumah dan dua kios di lokasi terpisah, dilaporkan terbakar

Empat Bangunan Terbakar di Bireuen
IST
KEBAKARAN rumah di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Jumat (14/6) sekitar pukul 03.00 WIB. 

* Diduga Akibat Percikan Api dari Trafo PLN

LHOKSEUMAWE - Empat bangunan yang terdiri atas dua rumah dan dua kios di lokasi terpisah, dilaporkan terbakar, dalam dua hari terakhir. Kebakaran pertama terjadi Kamis (13/6) sekitar pukul 19.00 WIB, saat satu kios berkonstruksi kayu di Dusun Muda Belia, Desa Lhok Mambang, Kecamatan Gandapura, Bireuen, diamuk si jago merah. Sementara kejadian kedua pada Jumat (14/6) sekitar pukul 03.00 WIB, dua rumah dan satu kios di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, juga ludes dilalap api.

Di Tanoh Anoe, dua rumah dan satu kios yang terbakar adalah milik janda Jamilah (60), warga setempat. Aparatur gampong menduga kuat kebakaran itu akibat percikan api dari trafo PLN yang meledak. Trafo tersebut berada di perkarangan rumah Jamilah. Namun, PLN membantah dugaan itu

Keuchik Tanoh Anoe, Amiruddin Ismail, menyebutkan, di areal tersebut ada tiga bangunan yaitu rumah permanen, semipermanen, dan satu kios. Rumah permanen selama ini ditempati Jamilah bersama dua cucunya. Sementara rumah semipermanen sering disewakan oleh Jamilah, namun saat kejadian sedang kosong. Sedangkan kios beratap rumbia selama ini digunakan Jamilah sebagai tempat berjualan kopi sachet dan barang-barang lainnya.

Pada malam kejadian itu, sebut Amiruddin, warga mendengar suara ledakan keras dari trafo di perkarangan rumah Jamilah. “Tetangganya sempat melihat percikan api dari trafo yang meledak tersebut dan kemudian jatuh ke atap rumbia kios milik Jamilah. Sehingga api pun membakar bagian atas kios tersebut,” katanya.

Dikatakan, api terus membesar hingga melebar ke dua rumah yang letaknya berdekatan dengan kios tersebut. Warga yang mengetahui kebakaran itu langsung datang ke lokasi untuk menyelamatkan Jamilah dan dua cucunya, serta memadamkan api. “Alhamdulillah Jamilah dan cucunya selamat. Namun dua rumah dan kios miliknya ludes terbakar,” katanya. Diungkapkan, trafo PLN di lokasi tersebut memang sering meledak. “Selama setahun saya menjabat sebaga keuchik, trafo itu sudah empat kali meledak dan yang kelima kali semalam sudah terjadi kebakaran,” katanya.

Untuk pemindahan trafo tersebut, tambah Amiruddin, permohonannnya sudah diajukan pihak desa jauh-jauh hari sebelum dirinya menjabat keuchik desa itu. Tapi, sampai sekarang belum juga dipindahkan. “Jadi, dengan kejadian ini kami berharap ada perhatian serius dari PLN termasuk memindahkan trafo tersebut ke lokasi lain,” harap Amiruddin. Untuk sementara, tambah Amiruddin, Jamilah dan cucu tinggal di rumah anaknya yang tidak jauh dari lokasi kebakaran.

Sementara di Desa Lhok Mambang, bangunan yang terbakar adalah kios berkonstruksi kayu milik M Yusuf (60) yang selama ini digunakannya sebagai tempat menjual pisang. Kadis Sosial Bireuen, Murdani, melalui Anggota Posko Tagana Bireuen, Muqsal Haris ST, mengatakan, kios itu terbakar di bagian atap dan hingga kini belum diketahui dari mana sumber apinya. Pantauan Serambi, di atas atap kios itu terbentang kabel listrik.

Soal kronologi kejadian, Muqsal mengatakan, saat itu M Yusuf sedang melakukan transaksi penjualan pisang dengan pembeli, tiba-tiba api muncul dari atas atap kiosnya. Karena atap kios itu daun rumbia, maka api cepat membesar.

Melihat hal itu, puluhan warga setempat segera membantu memadamkan api. Tak lama kemudian, datang mobil pemadam kebakaran Bireuen ke lokasi dan langsung melakukan pendinginan untuk mencegah api terus membesar. “Bagian atapnya terbakar semua, sehingga kios itu rusak berat,” pungkasnya.

Manajer Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Gandapura, Isra Febrianti, membantah kalau kebakaran tersebut akibat percikan api dari trafo PLN. Sebab, menurutnya, saat terjadi kebakaran trafo dalam kondisi aman. “Kita sudah turun ke lapangan, trafo kita dalam kondisi baik dan tidak ada bekas percikan api. Makanya kita pastikan rumah itu yang terbakar lebih dulu. Setelah itu baru api membakar kabel bagian bawah di trafo yang membuat listrik langsung padam. Jadi, tak benar bila dikatakan kebakaran itu akibat percikan api dari travo PLN ,” jelasnya.

Terkait permohonan warga agar trafi di perkarangan rumah Jamilah dipindahkan ke lokasi lain, Isra mengakui usulan itu memang ada sekitar setahun lalu. Namun, sambungnya, kala itu tidak bisa langsung ditindaklanjuti. Sebab, kalau dilakukan pemindahan trafo harus dipadamkan lampu hingga satu hari. “Awalnya posisi pintu trafo menghadap ke rumah pelanggan, makanya mereka khawatir. Tapi, itu sudah kita ubah dan sekarang pintu trafo sudah menghadap ke jalan,” demikian Isra.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Drs Amir Hamzah, kepada Serambi, kemarin, mengatakan, selama ini kebakaran yang terjadi di Aceh Utara lebih dominan akibat korslet listrik. Karena itu, ia mengimbau masyarakat supaya bisa mewaspadai penggunaan stok kontak.

“Stop kontak yang longgar bisa menyebabkan kebakaran. Selain itu menggunakan stop kontak dengan peralatan elektronik yang berlebihan juga bisa menyebab kebakaran. Karena itu, kita harapkan masyarakat untuk memastikan penggunaan instalasi sesuai standar yang sudah ditetapkan,” harap Amir Hamzah.(bah/yus/jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved