Elite Kuasai Proyek APBA

Mencuatnya kembali masalah proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2019

Elite Kuasai Proyek APBA
TAUFIQ A RAHIM,Pengamat Politik dan Pemerintahan

BANDA ACEH - Mencuatnya kembali masalah proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2019 yang belum dapat dilaksanakan dan bahkan belum ditender sama sekali mengindikasikan banyaknya persoalan di dalamnya. Menurut Pengamat Politik dan Pemerintahan, Dr Taufiq A Rahim, salah satu dari sekelumit persoalan itu adalah proyek APBA banyak dikuasai oleh para elite di Aceh.

“Banyak proyek APBA 2019 dikuasai elite tertentu yang berkuasa untuk kepentingan politik, biaya politik, dan memperkuat partai politik, terutama kepentingan pada Pemilu lalu,” kata Taufiq kepada Serambi, Sabtu (15/6).

Karena itu, menurutnya, tak mengherankan bila ada orang dan kelompok tertentu pada level elite kekuasaan yang mengatur, menguasai, dan mengontrol proyek APBA. Hal itu mengakibatkan terjadi tarik ulur sehingga proyek terhambat dan tidak terlaksana seperti yang direncanakan.

“Saat ini sudah masuk pertengahan tahun anggaran belanja, usaha untuk menguasai proyek tetap berlangsung. Sehingga banyak yang harus dipermainkan harga hasil perhitungan sementara (HPS) dan spesikasi (spek) juga sering menjadi persoalan serius dalam pelaksanaan proyek,” ungkapnya.

Jika ditelusuri dan tidak ditutup-tutupi pejabat teknis atau SKPA, menurut Taufiq, pasti publik akan tahu siapa yang ‘bermain’ dan menguasai proyek APBA. “Seringkali hal ini ditutup-tutupi dengan alasan rahasia negara, jadi tidak boleh disampaikan,” timpalnya.

Kondisi ini, lanjut Taufiq, sudah berlangsung lama serta cukup terstruktur dan massif. Sehingga para elite, pelaksana proyek, kuasa pengguna anggaran (KPA), unit layanan pengadaan (ULP), dan kelompok kerja (pokja) sangat paham ‘permainan’ ini. “Jadi, tidak perlu terlalu reaktif dan harus mengeluarkan kata-kata pemanis bibir akan menindak anggota pokja yang melanggar. Ini sudah menjadi rahasia umum,” ungkap Taufiq.

Dikatakan, sesungguhnya itikat untuk membangun Aceh hanya keinginan sekelompok orang atau elite Aceh yang terus-menerus ingin memanfaatkan APBA untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan cara menguasai anggaran dan proyek. Sehingga dampak dari kebijakan publik bagi pembangunan Aceh serta masyarakat sangat minim.

Karena itu pun, tambah Taufiq, masyarakat sudah sangat pesimis melihat kondisi tersebut. “Kehidupan masyarakat yang sulit hanya menjadi tontonan para elite dan jadi objek politik yang seringkali dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu seperti saat pemilu dan pilkada,” demikian Taufiq A Rahim.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved