Salam

Saatnya Seluruh Saluran Bebas dari Polusi Oli

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, antara lain, memberitakan tentang saluran drainase yang tercemar oli

Saatnya Seluruh Saluran Bebas dari Polusi Oli
SERAMBINEWS.COM/ MUHAMMAD NAZAR
Air di saluran di pinggir jalan Prof A Majid Ibrahim Sigli, Pidie, Sabtu (15/6/2019) berwarna hitam diduga akibat terkontaminasi oli bekas. 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, antara lain, memberitakan tentang saluran drainase yang tercemar oli. Kasus ini terjadi di pinggir jalan Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.

Dinas Lingkungan Hidup Pidie sudah melakukan survei ke lapangan untuk menemukan pelakunya. Sumber pencemaran ternyata berasal dari bengkel kendaraan bermotor yang memang banyak terdapat di Kota Sigli.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Pidie pun sudah mendata bengkel yang melayani jasa servis kendaraan yang membuang oli bekas ke saluran drainase. Praktik seperti ini bukan saja mencemari lingkungan, khususnya saluran air, tapi juga mengakibatkan rawan terbakar jika lapisan olinya tebal.

Secara ekologi dan medis, oli bekas itu digolongkan ke dalam kategori limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) yang tentunya sangat memengaruhi kualitas air. Kita patut gusar dan menyesalkan tindakan yang tak ramah lingkungan ini terlebih karena sistem drainase saluran kota kita rata-rata terhubung dengan sungai.

Kemudian, kebanyakan sungai di Aceh dijadikan sumber air baku utama oleh perusahaan daerah air minum (PDAM). Tanpa disadari, sumber air yang dipasok PDAM ke para pelanggan adalah air yang secara teknis mengandung zat polutan kategori B3.

Atau kalaupun airnya berhasil disterilkan tentunya butuh waktu lama dan pihak PDAM harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk memproses air tercemar B3 sampai digolongkan layak distribusi dan layak konsumsi.

Selain itu, perlu tetap diingat bahwa sungai-sungai di Pidie dan di kabupaten/kota lainnya di Aceh umumnya merupakan tempat hidup ikan, udang, dan berbagai biota sungai lainnya. Jika ikan dan udang sungai dikonsumsi, sedangkan biota tersebut sudah tercemar B3 dari limbah oli bekas, maka orang yang mengonsumsi ikan dan udang tersebut pun ikut terdampak.

Biota yang ada di muara bahkan sampai ke laut pun, terutama di kawasan padang lamun, ikut tercemar oleh limbah oli bekas yang mengalir dari bengkel-bengkel. Bila kebiasaan buruk para pekerja dan pemilik bengkel ini tidak ditertibkan dan ditindak, maka cepat atau lambat hal ini akan menjadi malapetaka hidrologis dan ekologis bagi Aceh.

Soalnya, bidang usaha yang paling dominan di Aceh adalah bengkel kendaraan bermotor yang jumlahnya mencapai 300.930 unit. Tenaga kerja yang terserap di sektor ini pun mencapai sejuta orang. Nah, para pekerja bengkel ini yang umumnya berpendidikan rendah dan terbanyak lulusan SMK Otomotif atau jebolan balai latihan kerja (BLK) perlu terus-menerus diedukasi untuk sadar lingkungan.

Kepada mereka perlu ditanamkan komitmen bahwa dalam kondisi apa pun tetap tidak boleh membuang oli bekas ke saluran air karena dapat berakibat fatal pada kesehatan manusia. Islam pun mengajarkan bahwa usaha yang kita tekuni haruslah yang tidak menimbulkan kemudaratan bagi diri sendiri maupun terhadap orang lain.

Jauh lebih bermanfaat jika oli-oli bekas dari setiap bengkel ditampung di wadah tertentu dan dalam jumlah tertentu dijual ke Medan untuk didaur ulang. Ini jauh lebih bermanfaat dan ramah lingkungan bagi Aceh, serta berdampak ekonomis pula.

Belajar dari kasus pencemaran saluran air oleh oli bekas di Pidie ini mari kita jadikan kasus ini untuk memupuk kesadaran di seluruh Aceh agar menghentikan total praktik membuang oli bekas ke selokan dan sungai. Upaya ini harus menjadi komitmen bersama kita demi Aceh yang lebih baik dan lestari.

Untuk memastikan upaya ini berjalan efektif, tentunya perlu langkah penegakan hukum. Kita merindukan ketegasan aparat keamanan yang berani menindak siapa pun yang mencemarkan lingkungan di Aceh, meskipun itu dalam skala kecil, berupa limbah B3 dari bengkel-bengkel kendaraan bermotor di sekitar kita. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved