Asa dari Pondok Jagung di Tepian Laut Lhoknga

SELEPAS magrib malam itu, Zulkifli (53) bersama istrinya, Marlinda (43) masih menemani beberapa pelanggan

Asa dari Pondok Jagung di Tepian Laut Lhoknga
SERAMBI/NASIR NURDIN
ZULKIFLI bersama istrinya, Marlinda dan anak bungsu mereka, Mujibur Razak di pondok jagung bakar tepian laut Lhoknga, Aceh Besar, Minggu (16/6) malam. 

SELEPAS magrib malam itu, Zulkifli (53) bersama istrinya, Marlinda (43) masih menemani beberapa pelanggan jagung bakar yang singgah di pondoknya. Anak bungsunya, Mujibur Razak (5) tidur lelap di balai-balai yang berfungsi sebagai tempat duduk para pelanggan. Tungku perapian jagung bakar sudah dipadamkan.

“Setiap hari kami tutup menjelang magrib setelah berjualan sejak ba’da zuhur,” ujar Zulkifli didampingi sang istri mengawali bincang-bincang dengan Serambi, selepas magrib pada Minggu (16/6) malam itu.

Zulkifli adalah satu dari puluhan penjual jagung bakar di tepian Laut Lhoknga, pinggiran Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh (Km 17), Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Setiap hari, terutama pada hari-hari libur, kawasan pantai yang merupakan objek wisata tersebut dipadati masyarakat, baik yang sengaja berkunjung atau sekadar melepas lelah saat melintas. Pondok jagung bakar menjadi salah satu pilihan tempat bersantai sambil menikmati deburan ombak dan hamparan laut lepas.

Zulkifli mengisahkan, dia bersama istri merintis usaha jualan jagung bakar sejak lima tahun lalu. Selama beberapa tahun dia bertahan dengan pondok darurat beratap terpal, sebelum akhirnya, dua tahun lalu dia mendapat pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp 5 juta yang dia gunakan untuk merehab pondok menjadi lebih nyaman bagi pelanggannya.

“KUR yang saya dapatkan waktu itu semuanya saya gunakan untuk merehab pondok, tak ada sisa untuk tambah modal jualan. Cicilan selesai sebelum jatuh tempo,” kata Zulkifli.

Ditanya berapa omzet hariannya, Zulkifli tak bisa menyebut angka pasti, karena targetnya hanya bisa memberi makan keluarga termasuk keperluan sekolah dan uang jajan harian anak-anaknya.

“Kalau laku Rp 200.000 hingga Rp 300.000, keuntungannya hanya cukup untuk beli beras, ikan, dan uang jajan anak-anak. Syukur-syukur kalau ada lebih untuk ditabung karena sewaktu-waktu anak-anak butuh keperluan sekolah,” kata Zulkifli yang tinggal di Gampong Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, tak jauh dari pondok jagungnya.

Utamakan pendidikan
Zulkifli dan istrinya, Marlinda mengatakan bagi mereka pendidikan anak-anak adalah yang utama. Dari lima putra-putri Zulkifli, empat di antaranya sedang dalam pendidikan, bahkan putra sulungnya, Umar (18) sedang menunggu hasil seleksi masuk perguruan tinggi di Padang, Jakarta, dan Bandung. “IP-nya di atas 3,” ujar Zulkifli menyiratkan kebanggaan seorang ayah.

Berikutnya, anak kedua, Nurmila (16) naik kelas II SMKN 1 Lhoknga, yang nomor 3 M Iqbal (14) naik kelas III SMPN 1 Lhoknga, dan nomor 4 M Alif Riski, tahun ini mendaftar ke SMPN 1 Lhoknga. “Si bungsu, Mujibur Razak, tahun ini masuk TK,” rinci suami istri tersebut.

“Mimpi besar saya adalah agar mereka berhasil dalam pendidikan,” ujar Zulkifli sambil melempar pandang menembus kegelapan malam di pesisir Laut Lhoknga. “Mereka jangan seperti saya yang hanya tamat SD,” lanjutnya, lirih. Dia juga bersyukur, anak-anaknya ikut merasakan beban orangtua mereka. “Setiap hari, sepulang sekolah mereka ngumpul di sini membantu jualan,” ungkap Zulkifli.

Tambahan modal
Menurut Zulkifli, jika dia tetap bertahan dengan menjual jagung bakar, sulit untuk menutupi kebutuhan sehari-hari karena keuntungan yang didapat semakin tidak sebanding dengan kebutuhan sehari-hari.

Solusinya, dia berharap bisa mendapatkan tambahan modal untuk memperbanyak barang dagangan seperti jualan kopi, rokok, makanan dan minuman ringan, jus, pulsa, BBM eceran, dan beberapa barang yang dibutuhkan di lokasi wisata. “Syukur-syukur kalau saya bisa membeli atau mendapatkan bantuan becak motor,” katanya.

Di akhir bincang-bincang dengan Serambi malam itu, Zulkifli berujar, “Kalaupun saya berharap ada yang membantu tambahan modal, semata-mata agar saya mendapatkan sedikit tambahan keuntungan karena kebutuhan pendidikan anak-anak saya semakin besar. Anak-anak saya harus berhasil dalam pendidikan, jangan seperti kami, orangtua mereka.”(nasir nurdin)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved