Pembangunan Reservoir Dimulai

Pembangunan tempat penyimpanan air raksasa (reservoir) di kawasan Taman Sari, tepatnya di belakang

Pembangunan Reservoir Dimulai
IST
GUSMERI,Plt Kepala Dinas PUPR Banda Aceh

* Total Anggaran Rp 12,7 Miliar

BANDA ACEH - Pembangunan tempat penyimpanan air raksasa (reservoir) di kawasan Taman Sari, tepatnya di belakang Gedung DPRK Banda Aceh, resmi dimulai pada pertengahan Juni 2019 ini. Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan membangun reservoir yang representatif, dilengkapi tiga booster (pemberi tekanan air) dengan total anggaran Rp 12,7 miliar.

Pengerahan sejumlah alat ke lokasi berlangsung sejak kemarin, Senin (17/6). Pada hari ini, pekerjaan reservoir akan dimulai dengan pembersihan lapangan. Berhubung di lokasi ada dua reservoir lama yang masih menampung air, petugas harus terlebih dulu mengosongkan wadah, baru selanjutnya memulai pembongkaran serta menentukan titik koordinat bangunan. Demikian disampaikan Plt Kepala Dinas PUPR Banda Aceh, Ir Gusmeri MT, kepada Serambi, Senin (17/6).

Sebelumnya, Dinas PUPR, PDAM, kontraktor, dan konsultan sudah mengunjungi lokasi untuk berkoordinasi terkait pembangunan reservoir. “Jadi sekarang kami sudah mulai ‘action’ sesuai arahan Wali Kota Aminullah yang menginginkan persoalan air di Banda Aceh segera tuntas,” kata dia.

Sebagai penanggung jawab pekerjaan, kata Gusmeri, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh elemen untuk bekerja ekstra. “Proyek ini akan saya monitor dan evaluasi setiap minggu, karena waktunya cuma 195 hari lagi. Setiap elemen harus bertanggung jawab atas bagiannya masing-masing, sebab ini proyek special case,” tegas pria yang juga menjabat Kepala Bappeda Kota itu.

Gusmeri menjelaskan, wadah raksasa itu mampu menampung hingga 3.000 kubik air yang dibangun di dalam tanah, sebagai tempat persediaan air untuk kecamatan Meuraxa, Kutaraja, Jaya Baru, dan sebagian Kecamatan Baiturrahman. “Saya menginginkan reservoir kita ini nanti bisa seperti miliknya Tirta Nadi Medan. Bangunannya ditutupi tumbuhan dan bunga-bunga supaya menambah keindahan,” katanya lagi.

Setelah reservoir itu rampung dengan anggaran Rp 12,7 miliar, lanjut Gusmeri, pihaknya juga akan merencanakan pembangunan fasilitas pelengkap seperti rumah jaga, pagar pengaman, dan lainnya. “Jadi kalau reservoir ini selesai, insya Allah suplai air untuk tiga setengah kecamatan itu lancar. Baru selanjutnya kita pikirkan untuk Ulee Kareng, Darussalam, dan sekitarnya,” timpal dia.

Plt Kepala Dinas PUPR Banda Aceh, Ir Gusmeri MT menambahkan, ketersediaan sumber air baku akan menjadi masalah serius ke depan. Untuk itu, Pemko Banda Aceh bersama Pemkab Aceh Besar dan Pemko Sabang (Basajan) tengah menggencarkan pembahasan terkait sumber air baku baru. “Sejak dulu kita mengandalkan air baku dari Krueng Aceh. Sementara kondisinya semakin memprihatinkan, terlebih selama kemarau ini,” katanya.

Gusmeri menjelaskan, pencarian sumber air baku harus menjadi prioritas Basajan ke depan, di samping kerja sama di bidang pariwisata, transportasi, dan lainnya. Sebab prediksinya, dalam waktu yang tidak begitu lama lagi Krueng Aceh akan berada pada titik nadir. “Aceh Besar mungkin masih banyak sumber airnya, sedangkan Banda Aceh ini susah. Maka dari itu, kami berharap Basajan bisa mencari solusi untuk kemaslahatan kita bersama,” pungkasnya.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved