Opini

Psikologi Politik Orang Aceh

Panggung perpolitikan nasional sempat dibuat geger dengan pernyataan Muzakir Manaf terkait Referendum Ace

Psikologi Politik Orang Aceh
IST
Munawar A. Djalil, Peminat Kajian Sejarah-Politik, PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Oleh Munawar A. Djalil, Peminat Kajian Sejarah-Politik, PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Panggung perpolitikan nasional sempat dibuat geger dengan pernyataan Muzakir Manaf terkait Referendum Aceh yang menuai beragam pendapat. Pernyataan tersebut sebagaimana yang telah dilklarifikasikan oleh Muzakir Manaf merupakan pendapat pribadi dan ungkapan spontanitas bersamaan dengan acara peringatan 9 tahun wafatnya Wali Hasan Tiro (Serambi Indonesia, 13 Juni 2019) dan menurut penulis tidak ada yang luar biasa dengan pernyataan berkenaan.

Justru yang sangat mengkhawatirkan banyak tokoh nasional terkadang terlalu latah dalam memberi respon. Sebut saja yang terakhir Ketua DPR RI Bambang Soesatyo yang ikut nimbrung mengomentari isu referendum Aceh, sampai kemudian dia meminta kepada pihak TNI untuk mengantisipasi perkembangan isu referendum agar dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat dan mencegah timbulnya pergolakan politik di daerah lainnya.

Menanggapi hal itu Juru Bicara KPA Azhari Cage berharap agar tidak bersikap overacting dalam mengomentari isu referendum Aceh, lebih jauh Azhari Cage mengatakan Aceh jangan diintimidasi, tapi didekati karena tipikal masyarakatnya sangat anti dengan gertakan (Serambi Indonesia, Senin, 10 Juni 2019). Penulis menyodorkan artikel singkat ini sekedar untuk memberikan pemahaman terkait psikologi politik orang Aceh meskipun dalam koridor sejarah-politik yang mengalami pasang surut (fluktuasi) dan tarik menarik dalam waktu yang relative lama.

Syahdan, pernah pada 1904 seorang Antropolog Belanda Dr. C. Snouck Hurgronje memberikan nasihat kepada Pemerintah Hindia Belanda antaranya berbunyi: “Mereka sama sekali lupa bahwa disiplin yang diciptakan oleh orang seperti Letkol. Van Daalen yang menerapkan tindakan kasar dan tidak manusiawi akan menuntut kehadiran pendudukan militer secara abadi, sedangkan kehadiran itu akan menutup kemungkinan segala macam kerukunan orang Aceh dengan pihak Belanda.”

Ketika nasihat ini disampaikan Snouck, perang Aceh telah berjalan lebih 30 tahun (1873-1904). Ironisnya Belanda telah menghabiskan dana yang sangat banyak, juga telah mengorbankan jiwa tentara yang terbesar sepanjang sejarah penaklukan kerajaan pribumi. Walaupun secara de jure kerajaan Aceh telah ditaklukan, namun secara de facto di beberapa tempat seperti Gayo Alas, Pidie, kubu-kubu Aceh masih terus bertahan dan belum dapat ditaklukan.

Pada tahun 1906 Aceh secara keseluruhan telah dapat memasuki era baru yaitu era pemerintah sipil yang lebih stabil. Oleh karena itu pada saat itu Gubernur Jenderal Belanda merasa perlu mengganti Gubernur militer Aceh yaitu Jenderal Van Heutz, untuk mengakhiri militerisasi ke pemerintahan sipil.

Menurut Dr. C. Snaouck Hurgronje seorang Gubernur Belanda di Aceh tidak sekadar memiliki pengalaman lapangan, tetapi juga memiliki tingkat kecerdasan dan intelektual yang tinggi, sehingga dengan cepat mengadakan pikiran-pikiran dan konsep baru untuk mengembangkan “Civilian Society”, di daerah Aceh.

Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu sangat berhati-hati untuk memilih seseorang tokoh yang akan menggantikan Jenderal Van Heutsz, karena untuk saat itu Aceh sedang menghadapi masa transisi dari era militerisasi ke era sipilisasi. Demikianlah Aceh waktu itu berada di persimpangan jalan, kalau salah memilih situasi di Aceh akan mengalami set-back. Apabila demikian, maka Aceh seperti dikhawatirkan Dr. C. Snouck Hurgronje akan menuntut kehadiran pendudukan militer secara abadi, dan perdamaian dengan rakyat Aceh tidak akan pernah terjadi.

Memang secara teoritis, reformasi di bidang politik tidak seperti reformasi di bidang ekonomi dan bidang lainnya yang sifatnya “non personal”. Reformasi bidang politik sifatnya sangat personal, artinya tidak mungkin orang yang sama menangani politik yang berbeda.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved