Opini

Efek Salah

Umat Islam seluruh dunia baru saja usai merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah berjuang

Efek Salah
IST
Dr. H. Mohd. Heikal, S.E.,M.M, Dosen Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

Oleh Dr. H. Mohd. Heikal, S.E.,M.M, Dosen Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

Umat Islam seluruh dunia baru saja usai merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah berjuang melawan hawa nafsu melalui ibadah puasa sebulan penuh lamanya. Kemenangan yang lain juga dirayakan fans “The Reds” julukan klub sepakbola Liverpool Inggris setelah mereka menjuarai Liga Champions 2018-2019 di Wanda Metropolitano, Minggu (2/06/19).

Gol pertama di menit kedua yang diperoleh Liverpool lewat tendangan dari kotak finalti dalam laga final tersebut serta menjadi gol tercepat selama musim kompetisi, dicetak oleh pemain yang sedang menjalankan ibadah puasa, menjadikan predikat juara untuk keenam kali sejak tahun 1977 bagi klub yang berdiri tahun 1892 itu.

Adalah Mohamad Salah atau Mo Salah bintang sepakbola yang pada 15 Juni nanti berusia 27 tahun, kelahiran Basyoun, Gharbia dan kemudian menghabiskan masa kecil di Nagrig- Mesir ini sebagai salah seorang penentu bagi Liverpool menjadi juara di musim ini. Kisah dan cerita tentang Salah begitu masif dipublikasi banyak media di seluruh dunia. The Economist dalan versi online mereka tanggal (06/06/19) menurunkan tulisan dengan judul “The Salah Effect: Mo Salah’s goals help to tackle Islamophobia in Liverpool, serta menampilkan foto Salah sedang menengadahkan tangan berdoa sebelum pertandingan dimulai. Majalah “transatlantik” dengan tiras lebih dari 1,2 juta ini juga memberitakan bahwa banyak fans Mo Salah yang kini beralih masuk Islam. Selanjutnya ITV dalam laporan yang dibuat pada (05/06/19) dengan judul; The Mo Salah effect: Islamophobia in Liverpool falls following striker’s arrival, study finds.

Kedua pemberitaan tersebut merujuk pada hasil studi para peneliti dari Stanford University dengan judul; “Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah?on Islamophobic Behaviors and Attitudes”. (Ala’ Alrababa’h, William Marble, Salma Mousa, and Alexandra Siegel: May 2019). Islamophobia, menurut Runnymede Trust sebagaimana dalam Wikipedia didefinisikan sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim”. Begitu juga halnya di Inggris, Islamophobia juga meningkat setelah peristiwa 11 September 2001.

Hasil dari penelitian tersebut ditemukan bahwa terjadi penurunan persentase atas kejahatan dan kriminalitas terhadap muslim di Merseyside akibat kahadiran Mo Salah sejak tahun 2017 bergabung dalam klub Liverpool sebanyak 18,9%, dan juga penurunan dari persentasi tweets antimuslim dari fans Liverpool dari 7% menjadi 3%.

Dalam klub Liverpool, tidak hanya Mo Salah yang berlatar belakang sebagai seorang muslim, ada sederetan pemain muslim lainnya seperti Xherdan Shaqiri, Sadio Mane, dan Naby Kieta. Bahkan ada pemain muslim yang juga prestasinya dibanggakan dunia seperti N’Golo Kante, Riyad Mahrez, Ilkay Gundogan, Mesut Ozil, Karim Benzema, Ousmane Dembele, dan Paul Pogba.

Namun Mo Salah adalah pemain muslim yang memiliki efek berbeda sehingga majalah Time menempatkan dirinya sebagai seorang dari The100 Most Influential People di dunia tahun 2019, edisi April-Mei 2019 di dalamnya juga ada Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru yang penuh empati berhasil menangani serangan teroris sangat mengerikan di Christchurch, serta tokoh lainnya seperti Mark Zuckerberg pendiri Facebook.

Sebagaimana penelitian yang penulis sebutkan di atas, bahwa Mo Salah adalah selebriti dengan role model yang berperan dalam membawa pergeseran terhadap perilaku sosial dalam masyarakat. Time menyebutkan, Mo Salah adalah is a better human being than he is a football player. And he’s one of the best football players in the world, dan sebagai pesepakbola professional ia bermain dengan menebarkan kegembiraan.

Bahkan setiap ia mencetak gol, maka para penggemarnya akan meneriakkan “Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku, jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi muslim, duduk di mesjid, di situlah kuingin berada.” Yel tersebut merupakan luapan kegembiraan supporter Liverpool, sebagai supporter atau kopites mereka adalah fans yang dikenal sangat fanatik dan loyal tanpa batas.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved