Pengusaha Beli Murah Sawit Rakyat

Pengusaha Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Nagan Raya dilaporkan membeli Tandan Buah Segar

Pengusaha Beli Murah Sawit Rakyat
Serambinews.com
Petani di Aceh Timur menjual tandan buah segar sawit (TBS) 

* Tingkat Petani Rp 550 per Kg

BLANGPIDIE - Pengusaha Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Nagan Raya dilaporkan membeli Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik petani di bawah harga yang ditetapkan pemerintah. Petani dari Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tidak berdaya menghadapi hal itu dan meminta pemerintah mengambil tindakan tegas.

Saat ini seluruh produksi TBS di Abdya dijual kepada pengusaha PKS yang beroperasi di Nagan Raya. Data yang diperoleh Serambi pada Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, luas lahan kelapa sawit milik rakyat yang sudah berproduksi mencapai Rp 16.740 ha. Diperkirakan, setiap hari 1.200 ton TBS sawit produksi petani Abdya dijual ke PKS di Nagan Raya.

Beberapa pedagang pengepul TBS sawit di Abdya yang dihubungi Serambi, Selasa (18/6), mengaku kecewa karena harga TBS yang ditampung sejumlah PKS Nagan Raya sangat rendah. Tingkat harga pun bervariasi, antara lain pabrik milik Emsem Rp 780 per kilogram (kg), pabrik Raja Marga Rp 800 per kg, pabrik dr Leni Rp 810 per kg, dan pabrik Fajar Baizury Rp 890 per kg.

Harga TBS yang ditampung pengusaha pabrik tersebut luput dari pantauan pemerintah sehingga petani sangat menderita. Padahal, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh telah menetapkan harga TBS sawit Wilayah Barat, berdasarkan hasil rapat tim penetapan harga TBS di Aula Dinas Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, 13 Juni 2019 lalu (Lihat boks).

Karena harga TBS yang ditampung pengusaha PKS sangat rendah dalam kurun waktu satu tahun terakhir, pedagang pengepul juga membeli TBS sawit dari petani dengan harga sangat murah, berkisar antara Rp 550 sampai Rp 570 per kg. “Harga TBS sawit tingkat petani sekarang ini mencapai titik terendah selama satu tahun terakhir,” kata salah seorang agen pengepul di Kecamatan Kuala Batee.

Sedangkan pedagang pengepul membeli lebih rendah dari harga beli pabrik, karena harus mengeluarkan biaya angkut ke lokasi pabrik di kawasan Nagan Raya. Disamping itu, TBS sawit yang dibawa mengalami susut ketika truk angkutan antre berhari-hari di lokasi PKS untuk bongkar muatan.

Pedagang pengepul mengaku sedih melihat nasib petani sawit di Abdya selama satu tahun terakhir akibat terpuruk harga TBS. Pendapatan dari TBS sawit dikatakan sepertinya tidak bisa lagi diharapkan. Sebab, harga TBS sawit hanya Rp 550 per kg, dikurangi ongkos panen Rp 200 sampai Rp 250 per kg. Setelah dipotong biaya yang dikeluarkan untuk pemupukan dan perawatan tanaman, tidak ada yang tersisa untuk petani.

Konon, kini tanaman sawit di lokasi dengan medan tempuh berat tidak lagi dipanen, dikarenakan pendapatan tidak bisa lagi menutup biaya operasional. Belum lagi lahan kebun sawit yang telantar karena tidak mampu dirawat semakin luas di banyak kawasan.

Petani kelapa sawit di Abdya dengan lahan terkonsentrasi di Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot mengharapkan Pemerintah Aceh dan Pemkab Abdya membela nasib petani. Sebab, tingkat harga TBS sawit yang ditetapkan secara sepihak oleh pengusaha PKS sekarang ini sangat merugikan petani. Petani malah menjadi korban permainan harga pengusaha pabrik.

Kepala Distanpan Abdya melalui Kabid Perkebunan, Azwar SHut dihubungi Serambi, Selas kemarin, mengakui kalau harga TBS sawit yang ditampung PKS di Kabupaten Nagan Raya lebih rendah dari harga yang ditetapkan Tim Penetapan Harga TBS kelapa sawit Wilayah Barat Periode Juni 2019.

Dalam hal ini, menurut Azwar, Distanpan Abdya tidak punya kewenangan melakukan pemantauan dan evaluasi harga ke PKS lokasi Kabupaten Nagan Raya. Sedangkan Abdya sendiri belum punya PKS. Tapi, Azwar mengaku sudah menyampaikan saran Kabid Produksi pada kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh agar Tim Penetapan Harga TBS sawit melakukan evaluasi langsung ke lokasi PKS Wilayah Nagan Raya.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh, T Amir Husein ketika dihubungi Serambi, Selasa (18/6), mengaku sudah lelah mengimbau pemerintah agar benar-benar berpihak dan membantu petani kelapa sawit di Aceh. Sebab, 80 persen produksi kelapa sawit di Aceh merupakan milik petani, sisanya 20 persen milik pengusaha.

Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah adalah Apkasindo agar dijadikan mitra menjembatani petani dengan pengusaha pabrik menyangkut harga TBS. “Harapan ini belum terlaksana hingga sekarang. Dan, lebih parah lagi, sudah dua kali rapat penetapan harga TBS tidak melibatkan Apkasindo, terakhir rapat pada 13 Juli lalu,” tegas T Amir Husein.

Kebijakan dinas yang tidak mengundang Apkasindo dalam rapat tim penetapan harga TBS sawit dan hanya melibatkan pihak pengusaha kelapa sawit, menurut T Amir Husein, sudah mengangkangi keputusan Gubernur Aceh yang menetapkan Apkasindo sebagai Anggota Tim Penetapan Harga TBS. “Tindakan tidak melibatkan Apkasindo dalam dua kali rapat penetapan harga TBS, kita protes secara keras. Kenapa kami tak diundang, padahal Apkasindo merupakan anggota tim penetapan harga TBS sawit,” tegas T Amir Husein.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved