Satu Kapal Malaysia dan 5 Awak Ditangkap

Kapal Perikanan (KP) Hiu 12 yang berada di bawah Kantor Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP)

Satu Kapal Malaysia dan 5 Awak Ditangkap
SERAMBI/BUDI FATRIA
KEPALA PSDKP Lampulo, Banda Aceh, Basri memperlihatkan Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Myanmar yang diamankan di Pangkalan PSDKP Lampulo, Banda Aceh, Selasa (18/6). 

BANDA ACEH - Kapal Perikanan (KP) Hiu 12 yang berada di bawah Kantor Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lampulo, Banda Aceh, menangkap satu kapal pencuri ikan berbendera Malaysia, Sabtu (15/6) pukul 06:30 WIB di perairan Aceh, tepatnya di Selat Malaka. Kapal dengan kapisitas 64 GT dan bermuatan ikan hasil tangkapan itu diboyong ke Pelabuhan Sabang, Minggu (16/6).

Kepala PSDKP Lampulo, Basri kepada Serambi, Selasa (15/6/2019) mengatakan, setelah berhasil diamankan pihaknya kapal asal Malaysia terpaksa harus disandarkan ke Pelabuhan Perikanan Sabang, karena kondisi kolam Pelabuhan Lampulo dangkal, sehingga tidak memungkinkan bersandarnya kapal tersebut.

Saat ini nahkoda kapal, Samroeng Thuphianthone (46) warga negara Thailand sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan empat ABK yang merupakan warga negara Myanmar akan menjadi saksi terhadap kasus pencurian ikan tersebut, yaitu Kyaw Yelwin (23), Aung Kyaw (25), Than Naing (24), dan Win Aye (29),

Sementara kapal KM KHF 1786 itu akan disita oleh negara, sedangkan ikan yang berada di dalam palka kapal sekitar 500 kilogram akan segera dilelang dan dijadikan bukti persidangan.

“Kapal berbendera Malaysia ini di tangkap di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dan diduga sudah sering menangkap ikan dengan trawl di wilayah perikanan Indonesia,” ujar Basri.

Dikatakan, awalnya ada tiga kapal Malaysia di perairan Aceh, namun dua kapal lain langsung dibayang-bayang oleh kapal milik tentara diraja Malaysia yang berada di sekitar lokasi. Sehingga untuk menghindari konfrotasi, pihak kapal Hiu hanya menangkap satu kapal.

PSDKP Lampulo, Banda Aceh akan menjerat tersangka dengan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 20 miliar.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved