Kadin Harus Hidupkan Dunia Usaha

Pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi, meminta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh

Kadin Harus Hidupkan Dunia Usaha
IST
RUSTAM EFFENDI, Pengamat Ekonomi Aceh 

* Terutama Perdagangan dan Industri

BANDA ACEH - Pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi, meminta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh agar membangkitkan dunia usaha Aceh, terutama sektor perdagangan dan industri. Selama ini iklim dunia usaha di Aceh ia nilai cenderung stagnan dan lesu.

Para pengusaha di Aceh dikatakan Rustam, lebih senang mengantungkan diri pada proyek-proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA). Situasi ini, diharapkannya bisa diubah. “Selama ini mindset pengusaha kita seakan-akan hanya ada ladang pada jasa konsturksi dari APBD,” kata Rustam.

Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah tersebut saat menjadi narasumber program cakrawala Radio Serambi FM dengan judul ‘Harapan Baru Untuk Kadin Aceh’, Jumat (21/6). Acara yang dipandu Eka Nataya itu juga menghadirkan narasumber internal, Yocerizal, Redaktur Politik dan Keamanan (Polkam) Harian Serambi Indonesia.

Rustam berharap, Kadin Aceh dibawah kepemimpinan Makmur Budiman bisa mengubah mindset dunia usaha Aceh. Sejatinya pengusaha Aceh harus mampu menerjemahkan kata ‘Dagang dan Industri’ pada nama organisasi itu.

Kata ‘Dagang’, dia jelaskan, berarti pengusaha-pengusaha harus bisa menghidupkan dunia perdagangan di Aceh seperti ekspor dan impor. Fenomena selama ini, pelabuhan-pelabuhan di Aceh dalam kondisi vakum, karena tidak ada aktivitas. Sedangkan kata ‘Industri’ berarti harus menghidupkan dunia industri dengan mengajak pengusaha luar berinvestasi di Aceh.

Aceh memiliki banyak sumber daya alam, seperti perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan, dan lainnya. “Ini tantangan kepada Kadin. Saya mau Kadin itu bukan tempat orang numpang hidup, tapi bagaimana menghidupkan Kadin dan bisa menyembuhkan kudis yang ada di Kadin. Saya yakin beliau (Makmur) bisa untuk itu,” tekan Rustam Effendi.

Makmur Budiman yang juga Direktur Utama PT Makmur Inti Sawita, terpilih sebagai Ketua Kadin Aceh periode 2019-2024 dalam Musyawarah Provinsi VI organisasi itu di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, 19 Juni lalu. Pengusaha kelahiran Montasik (Aceh Besar), 28 Februari 1962, itu ditetapkan secara aklamasi dalam sidang yang dipimpin Muntasir Hamid bersama empat anggota yaitu Iskandar Ali, Nora Idah Nita, Muhammad Mada, dan Taufik.

Salah seorang warga Alue Naga, Banda Aceh, juga ikut memberi komentar dalam program cakrawala Radio Serambi FM dengan judul ‘Harapan Baru Untuk Kadin Aceh’, Jumat (21/6). Dalam tanggapannya, ia meminta pengurus Kadin Aceh yang baru agar berhati-hati, jangan sampai terjerat korupsi.

“Saya cuma mau menyampaikan agar pengurus Kadin Aceh yang baru ini jangan sampai terjerat korupsi,” katanya.

Pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi, mengatakan, bahwa warning yang disampaikan warga Alue Naga tersebut sangat tepat, mengingat banyak pengusaha Aceh yang bergantung pada proyek-proyek pemerintah, baik jasa kontruksi maupun pengadaan barang.

“Benar sekali itu. Karena banyak yang mengejar proyek pemerintah, jangan sampai nanti justru terjerat kasus korupsi,” ujarnya.

Wakil Ketua KPK RI, Saut Sitomorang, pernah mengungkapkan bahwa korupsi yang dilakukan pejabat daerah di Indonesia, 80 persennya melibatkan pelaku usaha. Modusnya antara lain suap-menyuap dan gratifikasi untuk mempengaruhi kebijakan penyelenggara negara, seperti dalam hal pengadaan barang dan jasa, serta perizinan.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved