Citizen Reporter

Menuju Newcastle Bagai Kembali ke Panga

TIBA di Sydney pukul 10 pagi setelah menempuh perjalanan delapan jam dari Kuala Lumpur menumpang pesawat

Menuju Newcastle Bagai Kembali ke Panga
IST
KHAIRIL RAZALI, Dosen Program Studi Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry, penerima Beasiswa MORA 5.000 Doktor, melaporkan dari Newcastle, Australia

OLEH KHAIRIL RAZALI, Dosen Program Studi Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry, penerima Beasiswa MORA 5.000 Doktor, melaporkan dari Newcastle, Australia

TIBA di Sydney pukul 10 pagi setelah menempuh perjalanan delapan jam dari Kuala Lumpur menumpang pesawat Malaysian Airlines, saya untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Australia. Sebuah pemenuhan cita-cita untuk menjelajahi Negeri Kanguru.

Mendapat kesempatan menimba ilmu pengetahuan yang difasilitasi oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia melalui Beasiswa Program 5.000 Doktor yang diprioritaskan untuk tenaga-tenaga pengajar Perguruan Ttinggi Islam Negeri (PTIN) di bawah Kemenag, akhirnya alhamdulillah saya bisa mengikuti guru-guru dan teman-teman saya sebelumnya yang sudah lebih dulu belajar di Australia.

Tiba di Bandara Kingsford Smith Sydney, saya melewati pemeriksaan imigrasi dengan lancar dan saya disambut oleh mahasiswi saya yang sedang menimba ilmu master di University of New South Wales Australia.

Setelah beristirahat sejenak di airport, kami lanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum menjelajahi Kota Sydney dengan tujuan ke stasiun kereta api di pusat kota. Setelah mengabadikan beberapa momen di Central Statiion Sydney, perjalanan saya selanjutnya adalah menuju Callaghan, Newcastle.

Moda transportasi yang saya pilih menuju Callaghan adalah kereta api. Saya berasumsi dengan menumpang kereta api, saya akan bisa menikmati perjalanan, melewati, dan mengenal tempat-tempat baru yang masih membuat saya penasaran.

Perjalanan dari stasiun Kota Sydney menuju ke Callaghan lebih kurang tiga jam. Perjalanan yang melewati lebih kurang 21 pemberhentian, tapi terasa menarik. Sekilas saya mengamati para penumpang yang pulang ke kampungya setelah mereka mengunjungi Kota Sydney. Tidak jarang, antarpemberhentian juga ikut bergabung anak-anak sekolah yang baru pulang sekolah.

Menariknya, sepanjang perjalanan saya melewati suburb atau perkampungan-perkampungan pinggiran kota yang tersebar. Semakin jauh meninggalkan Kota Sydney, perjalanan semakin berkesan menuju daerah perkampungan yang semakin hijau dan di penuhi hutan-hutan. Di perjalanan, saya menikmati pepohonan di kiri atau kanan yang kadang-kadang diselingi dengan perkampungan, sisian laut dan perbukitan.

Perjalanan tiga jam bagi saya terasa seperti menelusuri jalan Banda Aceh-Calang yang di sisiannya di penuhi dengan pepohonan. Namun, karena saya memilih kereta api, maka saya tidak menikmati pegunungan atau tanjakan-tanjakan bukit seperti halnya menuju Aceh jaya. Perjalanan kereta api yang datar namun berkelok-kelok, tetap menarik dan menjadi pengalaman yang luar biasa. Sepanjang perjalanan yang asri dan terasa melewati jalan USAID Banda Aceh-Aceh Jaya, namun, sepanjang perjalanan menuju Callaghan, keindahan panorama terasa berbeda di karenakan perkampungan yang lebih tertata dan maju.

Sebagai bagian dari negara maju, perkampungan dalam perjalanan selama tiga jam terlihat lebih indah dipandang, pusat-pusat kecamatan yang saya lewati terasa ramai. Perjalanan dari Sydney menuju Callaghan, Newcastle, bisa jadi melelahkan, tapi pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan menarik sebagai pengalaman perbandingan. Penataan dan pemeliharaan menjadi hal penting sejauh saya amati. Callaghan yang hanya berjarak tiga jam dari Kota Sydney, tetaplah perkampungan yang asri dan tidak tertinggal.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved