Opini

Merawat Mentalitas Berlalu-Lintas

Setiap tahun, faktor kelalaian manusia (human error) sangat dominan yang menyebabkan kecelakaan dalam

Merawat Mentalitas Berlalu-Lintas
Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 

Oleh Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)

Setiap tahun, faktor kelalaian manusia (human error) sangat dominan yang menyebabkan kecelakaan dalam berlalu-lintas. Setiap tahun, kecelakaan selalu ada. Hal yang harus dicatat bahwa setiap ada kecelakaan, selalu ada korban.

Kasus dan korban harus dilihat dalam satu kesatuan. Bisa jadi jumlah kasus menurun, namun korban tidak berkurang.

Jika setiap tahun faktor manusia yang sangat menentukan, bukankah kegiatan yang bertumpu pada penguatan kesadaran menjadi sangat penting? Apa saja yang sudah dilakukan untuk penguatan kesadaran ini, sehingga suatu saat tidak ada lagi korban yang sia-sia di jalan raya?

Saya sendiri beranggapan bahwa setiap kematian tidak semata soal angka. Setiap nyawa harus dianggap sangat berharga. Tidak penting yang mati di jalan itu bertambah atau berkurang, karena esensi dari korban selalu membawa duka dan luka bagi kemanusiaan.

Saya ingin menawarkan cara pandang lain terkait perilaku yang anomali bahkan antinomi hukum di jalan raya. Yakni penguatan perilaku pada tataran struktur. Harus dipahami bahwa perilaku yang antinomi itu, tidak saja dipicu oleh rakyat jelata. Perilaku mereka yang berada dalam struktur tidak bisa dipisahkan dengan realitas ini.

Membaca Friedman
Lawrence M Friedman sudah lama menawarkan cara berpikir hukum dalam konteks sistem. Teori sudah muncul sejak 1950-an. Ia melihat ada tiga elemen yang tidak bisa dipisahkan ketika kita melihat hukum, yakni elemen substansi (substance), struktur (structur), dan kultur (culture).

Dengan melihat cara berpikir Friedman, orang bisa membedakan norma tertulis dalam ruang law in the book, dan membandingkannya dengan realitas berhukum, law in the action. Apa yang tertulis dalam peraturan, selalu bisa ditelusuri pada titik mana tidak teraplikasi di lapangan.

Pada tataran kebijakan hukum, lampu lalu lintas (traffic lights) diciptakan dalam rangka mengatur ketertiban di jalan raya. Tujuan ketertiban ini, pada aras yang lebih tinggi dijamin dengan nilai kepastian hukum. Lalu bagaimana pada tataran realitas hukum? Banyak lampu lalu lintas dengan mudah dilanggar oleh pengendara.

Lampu lalu lintas diperkuat dengan perbedaan warna yang memberi perintah yang berbeda. Sejak sekolah taman kanan-kanak, warna lampu ditanamkan lewat lagu-lagu. Lampu merah berhenti, kuning jaga-jaga, hijau mari jalan. Begitulah isinya. Seyogianya ketika dewasa, perbedaan ini sudah tertanam dalam jiwa kita.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved