Opini

Merawat Mentalitas Berlalu-Lintas

Setiap tahun, faktor kelalaian manusia (human error) sangat dominan yang menyebabkan kecelakaan dalam

Merawat Mentalitas Berlalu-Lintas
Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 

Pada tataran etis, lampu lalu lintas ingin memberi kesempatan kepada sesama pengguna jalan. Saat hak kita untuk jalan, yang ditegaskan melalui lampu hijau, ada pembatasan orang lain di sudut yang lain dengan lampu merah, yang berarti berhenti.

Secara hukum, pembatasan ini kemudian dikonkretkan dengan adanya pelarangan secara tegas, sehingga kalau ada yang tidak mengindahkan, akan ditindak sebagai bukti pelanggaran (tilang).

Hukum orang awam
Masalahnya adalah ada realitas yang tidak sama dari orang yang memandang hukum. Masing-masing bisa jadi memiliki tingkat yang berbeda dalam memahami hukum ke dalam jiwanya.

Salah satu teoritisi hukum dan masyarakat, Antonie G. Peters, menyebut salah satu perspektif hukum sebagai pengatur ketertiban (social control). Dua fungsi lain, menurutnya adalah rekayasa sosial (social engineering) dan emansipasi masyarakat terhadap hukum (the bottoms up view of law).

Perspektif ketertiban hukum, ditamsilkan Peters seperti polisi yang memandang hukum. Berbeda dengan dua lainnya. Perspektif rekayasa sosial, seperti pejabat penguasa dengan hukum. Era yang maju, diharapkan hukum itu semakin responsif, dengan mengajak orang awam berpikir tentang hukum yang akan mengatur kehidupan mereka.

Realitasnya dalam kacamata awam, sepertinya yang dimaknai hukum bukan teks yang melarang seseorang melaju saat lampu berwarna merah, melainkan pada keberadaan polisi yang memberi petunjuk seseorang bisa jalan atau tidak. Konsep ini juga yang disebut Soerjono Soekanto, seorang ahli hukum yang juga sosiolog hukum, sebagai salah satu konsep hukum bagi masyarakat.

Cara memahami hukum di atas, adalah cara paling awam bagaimana seseorang memaknai hukum. Cara semacam ini seharusnya tidak ada lagi dalam masyarakat yang sudah maju dan sudah bisa membedakan antara hak dan kewajiban. Ironisnya, ternyata realitas ini masih ada sekeliling kita. Jangan heran, setiap lampu lalu lintas, selalu ada penerobos dari arah lampu yang berwarna merah.

Ada pameo yang menyedihkan dalam masyarakat, bahwa saat lampu lalu lintas berwarna hijau, harus hati-hati karena ada orang lain yang justru melaju ketika warna merah.

Sebagian kita bisa saja beranggapan bahwa ada yang tidak normal dalam masyarakat kita. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan kemana-mana.

Faktor struktur
Ada hal lain yang tidak kalah serius, yakni ketidaktaatan struktur pada rambu-rambu lalu lintas. Dengan alasan standar prosedur, tidak semua pejabat berkenan berhenti pada setiap lampu lalu lintas. Belum lagi mobil-mobil dinas yang dimiliki oleh struktur yang dibiayai oleh negara, belum semua bisa menjadi contoh yang baik bagi rakyatnya. Termasuk menjadi contoh bagi cara pandang hukum versi masyarakat awam, yang seharusnya dinampakkan dengan keteladanan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved