Breaking News:

Warga Pidie Keluhkan Sidik Jari

Sejumlah warga Pidie mengeluhkan perekaman sidik jari (finger print) saat berobat ke rumah sakit

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Teuku Saifullah TS 

* Saat Berobat ke Rumah Sakit

SIGLI- Sejumlah warga Pidie mengeluhkan perekaman sidik jari (finger print) saat berobat ke rumah sakit, seusai diberlakukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Proses perekaman sidik jari mengharuskan pasien menunggu beberapa jam saat antrean di rumah sakit.

Anggota Komisi D membidangi kesehatan DPRK Pidie, Teuku Saifullah TS, Sabtu (22/6) mengatakan perekaman sidik jari yang diberlakukan BPJS Kesehatan terhadap pasien sangat memberatkan masyarakat. Pasalnya, pasien harus mneunggu lama atau antrean panjang untuk mendapat giliran perekaman sidik jari, katanya,

Dia mengatakan sejak diberlakukan perekaman sidik jari, warga harus memboyong anggota keluarganya yang sakit jiwa ke rumah sakit. Juga pasien yang mengalami patah tulang yang perlu penanganan segera untuk dilakukan bedah, juga harus antrean sidik jari.

Lanjutnya, mengacu kepada laporan masyarakat, diberlakukan sidik jari oleh BPJS Kesehatan secara dadakan dan tanpa dilakukan sosialisasi lebih dahulu kepada warga. Sehingga warga terkejut saat harus melakukan perekaman sidik jari di rumah sakit.

“Seharusnya BPJS Kesehatan melakukan sosialisasi lebih dahulu kepada warga, agar masyarakat tidak terkejut saat melakukan perekaman sidik jari saat berobat ke rumah sakit,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, selama ini warga berobat ke rumah sakit dengan program BPJS Kesehatan tanpa sidik jari, otomatis tidak merepotkan keluarga pasien saat membawa keluarganya ke rumah sakit. Apalagi keluarganya yang mengalami gangguan jiwa yang sangat susah dilakukan perekaman sidik jari.

Untuk itu, kata T Saifullah, aturan perekaman sidik jari yang diberlakukan BPJS Kesehatan supaya ditinjau ulang, atau BPJS Kesehatan memberlakukan peraturan itu tidak untuk semua penyakit yang diderita pasien.

“Pasien gangguan jiwa dan warga yang perlu penanganan medis cepat tidak perlu dilakukan sidik jari. Saya menilai pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pemerintah justru susah dalam pengurusan adminitrasi,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala BPJS Kesehatan Pidie, dr Sri Nurmali, kemarin, menjelaskan, diberlakukan sidik jari bagi pasien yang berobat di rumah sakit, agar semua biaya negara tepat sasaran terhadap peserta BPJS Kesehatan. Sistem perekaman sidik jari diberlakukan terhadap semua rumah sakit di Indonesia.

Awalnya, kata Sri, warga sedikit kewalahan, tapi saat sudah lama perekaman sidik jari itu tidak dikeluhkan lagi. Pemberlakukan sidik jari kepada poli dilakukan secara bertahap dan telah dilakukan uji coba di semua rumah sakit.

“Saya rasa tidak masalah dengan perekaman sidik jari karena tujuannya untuk memudahkan peserta BPJS Kesehatan. Sidik jari itu baru dilakukan pada Mei tahun 2019 ,”ujarnya.

Menurutnya, perekaman sidik jari hanya satu kali dilakukan terhadap pasien seperti diabetes dan hipertensi. Namun, ketika berobat kedua kali hanya menampakkan jari saja yang nama pasien telah terekam di dalam alat elektronik tersebut. Juga pasien yang sama dibawa kembali jika terjadi komplikasi penyakit.

Sebut dokter Sri, berdasarkan etika kedokteran bahwa pasien yang diberikan obat harus diperiksa lebih dahulu dan tidak boleh diwakili oleh orang lain. “Kita minta kepada rumah sakit supaya menempatkan alat perekaman sidik jari di dalam ruang HD atau ruang haemodialisa, agar pasien tidak perlu pergi ke depan,” jelasnya.(naz)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved