Distan: Stop Benih IF8

Dinas Pertanian dan Pangan (Distan) Aceh Utara menyetop penyaluran dan penggunaan benih

Distan: Stop Benih IF8
IST
MUKHTAR, Plt Kadistan Aceh Utara

* Karena tak Miliki Sertifikat

LHOKSUKON – Dinas Pertanian dan Pangan (Distan) Aceh Utara menyetop penyaluran dan penggunaan benih padi IF8 di kabupaten setempat, karena belum memiliki sertifikat serta izin untuk disebarluarkan. Larangan itu untuk mengantisipasi kerugian petani menyusul benih tersebut belum dilepas pihak kementerian.

Serambi memperoleh informasi itu dari petani setelah Distan mengeluarkan surat yang disampaikan kepada Koordinator Pengawasan Benih Tanaman Pangan (PBT), Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan mantri tani di Aceh Utara. Surat tersebut dikeluarkan Distan tertanggal 19 Juni 2019.

Dalam surat tersebut disebutkan, pihak Distan Aceh Utara mengeluarkan larangan guna menindaklanjuti surat dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh tertanggal 15 Mei 2019. Dalam surat itu, Distan meminta seluruh mantri tani, penyuluh dan Koordinator PBT untuk mengawasi dan melakukan sosialisasi pelarangan penyaluran sekaligus penggunaan benih padi IF8 yang belum resmi.

“Kita larang penyebaran karena benih itu belum dilepas oleh pihak kementerian, sesuai dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distan Aceh Utara, Mukhtar SP kepada Serambi kemarin. Benih tersebut saat ini masih dalam tahap penelitian.

Disebutkan, bila benih belum dilepas atau diresmikan kementerian, sudah tentu tak memiliki bersertifikat dan berlabel sehingga belum bisa disebarkan. Dalam Pasal 16 disebutkan, Pemerintah dapat melarang pengadaan, peredaran dan penanaman benih tanaman tertentu yang merugikan masyarakat, budidaya tanaman, sumber daya dan/atau lingkungan.

Menurut Mukhtar, pihaknya juga belum mengetahui sumber asal usul benih IF8 itu. Misalnya, belum ada deskripsi dari benih tersebut, berapa kadar airnya, hari umur tanaman, kemudian tahan terhadap penyakit apa saja.

Benih tersebut, lanjut Plt Kadis Distan Aceh Utara, tidak memiliki legalitas untuk dijual. “Kita khawatirkan benih yang dijual selama ini palsu, karena tidak ada yang mengawasi sehingga yang dirugikan adalah petani. Kejadian serupa juga pernah terjadi sebelumnya,” jelasnya.

Ditambahkan, pihaknya mendapat informasi benih IF8 sudah beredar dalam jumlah banyak selama ini di Aceh Utara. “Kita dapat informasi jumlahnya sudah berton-ton yang beredar di petani,” pungkas Muktar.

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Aceh Utara, Tgk Munirwan kepada Serambi menyebutkan, benih IF8 diperoleh pihaknya dari Bantuan Pemerintah Aceh yang diserahkan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf pada tahun 2017. Lalu benih tersebut dikembangkan dan hasilnya sangat baik. Perhektare mencapai 11,8 ton, sedangkan benih biasa hanya 7-8 ton perhektarenya.

Disebutkan, karena hasilnya sangat baik, pihaknya menetapkan benih IF8 itu menjadi produk unggulan kawasan desa (prukades) lewat usaha Badan Usaha Milik Gampong (BUMG). Sehingga, pihaknya saat itu mampu meraih juara dua nasional desa terbaik. Menyusul prestasi itu, semua desa di Aceh Utara tertarik untuk ujicoba benih tersebut.

“Pada saat panen perdana 17 April 2018, semua kepala dinas hadir di Aceh Utara termasuk dari Aceh. Hasilnya 11,8 ton perhektare,” ujar Tgk Munirwan. Selain itu, Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib saat ada kegiatan bursa inovasi desa juga meminta supaya keuchik menggunakan benih IF8.

“Persoalan sekarang ada orang yang membuat benih ini disertai dengan kemasan dan bertuliskan AB2TI. Padahal, benih tersebut bukan berasal dari kami. Sedangkan kami sah jika memproduksi benih IF8 meski belum ada sertifikat,” katanya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved