Kemenag tak Tahu Embarkasi Haji di Pulau Rubiah

Kementerian Agama (Kemenag) RI ternyata tidak tahu ada bangunan embarkasi haji peninggalan kolonial

Kemenag tak Tahu Embarkasi Haji di Pulau Rubiah
FOTO HUMAS KEMENAG ACEH
DIREKTUR Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis bersama rombongan melihat langsung gedung embarkasi haji pertama Nusantara peninggalan kolonial Belanda di Pulau Rubiah, Sabang, Senin (24/6). 

BANDA ACEH - Kementerian Agama (Kemenag) RI ternyata tidak tahu ada bangunan embarkasi haji peninggalan kolonial Belanda di Pulau Rubiah, Sabang. Bangunan yang didirikan tahun 1920 itu baru diketahui dari pemberitaan media.

“Kami belum pernah mendapatkan informasi ini. Saya tahunya di sini. Saya belum dengar dari sana (pusat),” kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri, Sri Ilham Lubis kepada Serambi, Senin (24/6), di Banda Aceh, sebelum menyeberang ke Sabang untuk meninjau embarkasi haji.

Sebelumnya Serambi memberitakan kondisi gedung embarkasi haji di Pulau Rubiah yang tak terawat dan luput dari perhatian pemerintah. Bahkan, perkarangan gedung yang berada di tengah pulau itu sudah ditutupi semak dan ilalang. Masyarakat luar juga banyak yang tak tahu situs sejarah perhajian masa kolonial tersebut. Kebanyakan wisatawan yang datang ke Pulau Rubiah hanya menghabiskan waktu untuk menikmati pesona wisata bahari yang ada di sana, seperti snorkeling dan menyelam.

Padahal, tak jauh dari objek wisata bahari tersebut, terdapat lokasi embarkasi haji pertama dalam sejarah perhajian Indonesia yang jaraknya hanya terpaut 150 meter dari bibir pantai. Terakhir kali gedung itu dipugar ketika Ustaz Abdul Somad datang ke sana, November 2018.

Setelah mengetahui informasi tentang embarkasi haji itu, Sri langsung menyatakan bahwa situs itu perlu segera dipugar dan dilestarikan. Selain menjadi titik sejarah perhajian pertama di Indonesia, situs itu juga akan menjadi destinasi wisata religi di Pulau Weh. Untuk langkah awal, Sri meminta Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Aceh memugarnya. Selain itu, dia juga berharap Pemerintah Aceh dan Sabang ikut mengembangkan kembali situs perhajian masa kolonial itu, sehingga menjadi daya tarik wisata Aceh.

“Dimulai saja dari Kanwil dulu mendokumentasikan dan mengembangkan situs itu supaya terlihat. Kenapa dari Kanwil, karena kita yang punya kepentingan pertama, makanya kita dorong dari Kanwil dulu. Kemudian Pemda ikut serta membantu Kanwil,” tambah dia.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis juga menyampaikan rasa takjub dengan bangunan embarkasi haji era Belanda itu. “Saya benar-benar takjub melihat bangunan ini, masih bangunan dari zaman Belanda tapi sekarang masih ada,” katanya setelah melihat langsung. Disisi lain, dia merasa prihatin karena kondisi bangunan sudah lapuk. “Tapi kalau kita lihat bangunan ini sekarang memprihatinkan, atapnya sudah roboh, lantainya pecah-pecah, jadi memprihatinkan,” ungkap dia.

Karena itu dia meminta agar bangunan embarkasi itu segara dipugar dan dijadikan museum perhajian di Aceh. Sehingga masyarakat bisa mengetahui sejarah perhajian masa lalu atau tapak tilas perhajian dulu. Bahkan jika memungkinkan bisa dilakukan manasik haji di Pulau Rubiah.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, HM Daud Pakeh mengatakan akan menindaklanjuti arahan pusat. Pihaknya akan melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu, seperti membersihkan gedung agar layak dikunjungi. “Jika sudah dipugar, bimbingan manasik sangat mungkin dilakukan disana,” ungkapnya.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved