Meski Diharamkan, Gamers di Banda Aceh Tetap Buka dan Mainkan PUBG, Ini Alasan dan Harapan Mereka

Sebagai seorang gamer mewakili yang lainnya merasa sangat berat meninggalkan game tersebut meskipun diharamkan.

Meski Diharamkan, Gamers di Banda Aceh Tetap Buka dan Mainkan PUBG, Ini Alasan dan Harapan Mereka
SERAMBINEWS.COM/YULHAM
WARGA mengikuti kompetisi game Player Unknown’s Battle Grounds (PUBG) di salah satu kafe di Meulaboh, Aceh Barat, Sabtu (22/6/2019). Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh pada sidang III tanggal 17-19 Juni 2019 telah memfatwakan bahwa permainan game PUBG dan sejenisnya haram hukumnya di Aceh. 

Laporan Reporter Magang Harisul Amali I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Meski Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh telah mengeluarkan fatwa haram terhadap permainan PUBG, sebagian anak muda memilih untuk tetap memainkan game tersebut.

Seperti diungkapkan seorang gamer, Muhammad Rafly.

Menurutnya hal tersebut tetap dilakukannya bukan bermaksud untuk membantah fatwa ulama.

Sebagai seorang gamer mewakili yang lain, ia merasa sangat berat meninggalkan game tersebut meskipun diharamkan.

Terlebih, menurutnya karena salah satu rasionalisasi dari MPU bahwa game dapat membuat anak menjadi brutal.

Menurutnya tidak demikian.

Baca: Tiga Tahun Belum Terungkap, Keluarga Tetap Yakin TS Sitanggang Dibunuh

Baca: Waspadalah! Penyakit Jantung Intai Pegawai Kantoran

Baca: Kisah Salamiah, Tukang Sapu Masjid Bujang Salim Hidupi Keluarga dan Sembuhkan Dua Anaknya yang Sakit

Ia menganalogikan secara sederhana dengan game PES.

“Apabila kita jago main game PES, bukan berarti kita jago bermain bola. Sama juga dengan PUBG, ketagihan main PUBG bukan serta merta membuat kita menjadi brutal,” ungkapnya kepada Serambinews.com, Selasa (25/6/2019).

Rafly melanjutkan, sebelum fatwa ini menjadi regulasi sehingga muncul asumsi dan wacana akan ada hukuman bagi gamers.

Ia berharap pemerintah dapat memfasilitasi ruang dialog antara gamers dan MPU, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

Sehingga fatwa tersebut juga dapat tersosialisasikan.

Hal berbeda diungkap mantan gamer, Lailul Farhas.

Menurutnya setelah dikeluarkan fatwa haram, ia langsung berhenti bermain game tersebut karena lebih memilih menghormati fatwa ulama.

“Namun saya mendukung adanya ruang dialog antara gamers dan pemerintah maupun MPU, sehingga kita sama-sama enak,” pungkas mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unsyiah tersebut.(*)

Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved