Pidie Jaya Launching Program Bantuan Pangan Nontunai, Ini Harapan Pemkab

Program ini sebelumnya lebih dikenal dengan bantuan beras warga miskin (raskin) atau beras sejahtera (ranstra).

Pidie Jaya Launching Program Bantuan Pangan Nontunai, Ini Harapan Pemkab
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Pemkab Pidie Jaya diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs H Abd Syakur MM, Selasa (25/6/2019) melaksanakan launching penyerahan program bantuan pangan nontunai (BPNT). 

Laporan Abdullah Gani | Pidie Jaya

SERAMBINEWS.COM, MEUREUDU - Pemkab Pidie Jaya diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs H Abd Syakur MM, Selasa (25/6/2019) melaksanakan launching  penyerahan program bantuan pangan nontunai (BPNT).

Kegiatan yang digagas Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) bekerjasama dengan Bank BRI, digelar di halaman salah satu pertokoan sembako Gampong Kuta Pangwa Kecamatan Trienggadeng dihadiri puluhan warga calon penerima BPNT kecamatan setempat.

Program ini sebelumnya lebih dikenal dengan bantuan beras warga miskin (raskin) atau beras sejahtera (ranstra).

Terakhir, namanya berubah menjadi BPNT. Bedanya, jika dulu bantuan diterima dalam bentuk beras yang dibagikan di gampong-gampong.

Tapi sekarang ini berupa barang (beras dan telur) dan pengambilannya  di toko yang ditunjuk dengan menunjukkan kartu identitas.

Uangnya masuk melalui Bank Rp 110.000 setiap bulan per-kepala keluarga (KK).

Hanya saja, penerima mendatangi toko mengambil 5 kg beras serta satu lempeng telur  ayam (30 butir).

Penyerahan secara simbolis dilakukan Bupati Pijay diwakili Asisten  Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdakab setempat, Drs H Abd Syakur MM, Kasub Bulog Divisi Regional (Disvre) Pidie, Kepala BRI Cabang Sigli serta Sekretaris Dinsos P3A setempat, dr Hernida.

Baca: Ratusan Keluarga Miskin di Peusangan Terima Bantuan Beras dan Telur

Baca: 5.058 Warga Fakir Miskin di Aceh Jaya Terima Bantuan Tunai

Pemkab Pijay berharap agar bantuan jangan dijual ke pasar.

Hal itu diingatkan karena lazimnya terlihat banyak masyarakat setelah menerima bantuan baik beras raskin atau rastra atau pun bantuan dari sumber lainnya, begitu menerima  langsung menjual ke pasar.

Alasannya beragam terlebih bantuan diterima saat panen sehingga beralasan mereka ada hasil panen untuk digiling menjadi beras.

“Tolong beras yang diterima ini jangan dijual. Apalagi, kualitasnya lumayan bagus. Sementara jika dijual  tentu harganya sudah pasti rendah,” papar Abd Syakur. (*)

Penulis: Abdullah Gani
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved