Air Baku PDAM Susut 30 Persen

PDAM Tirta Daroy Banda Aceh kehilangan air baku sebesar 30 persen akibat bocornya bendungan karet

Air Baku PDAM Susut 30 Persen
AMINULLAH USMAN,Wali Kota Banda Aceh

* Akibat Bocornya Bendung Karet

BANDA ACEH - PDAM Tirta Daroy Banda Aceh kehilangan air baku sebesar 30 persen akibat bocornya bendungan karet yang terdapat di Sungai Krueng Aceh, di kawasan Lambaro, Aceh Besar. Bendung karet yang bocor itu berada di dekat intake penyedotan air baku.

Penurunan sedotan air baku dari sungai ke kolam penjernihan PDAM Tirta Daroy tersebut mengakibatkan distribusi air bersih ke pelanggan ikut menurut. Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, meminta pihak Balai Sungai Wilayah (BSW) I Aceh untuk segera memperbaiki bendung karet yang bocor tersebut.

Jika tak segera dilakukan, Wali Kota khawatir tangkapan air baku yang hilang akan semakin besar. “Akibat bocornya bendung karet, tangkapan air baku jadi susut. Kondisi ini membuat debit sedotan pompa PDAM berkurang sekitar 30 persen. Kita berharap, kebocoran itu bisa segera diperbaiki BSW I Aceh,” ungkap Aminullah kepada Serambi, Senin (24/6).

Dikatakan, berdasarkan laporan Direktur PDAM Tirta Daroy, Teuku Novizal Aiyub, menurunnya sedotan air baku PDAM Tirta Daroy diketahui dari hasil produksi air bersih. Saat musim hujan dan ketinggian air sungai berada di atas bendungan karet, produksi air baku yang bisa disedot dari Krueng Aceh mencapai 700-750 liter/detik. Sementara produksi normal air bersihnya rata-rata 720 liter/detik.

Sekarang, jelasnya, tangkapan air baku menurun. Pasalnya ketinggian air sungai hanya setengah dari bendung karet. Kondisi itu ikut menurunkan debit sedotan air baku sebesar 30 persen dari debit normal 700-750 liter/detik. “Produksi air bersih kita sekarang sekitar 490-525 liter/detik. Menurun jauh dari sebelumnya, 700-750 liter/detik,” jelas Aminullah sambil menambahkan akibat menurunnya sedotan air baku dan berimbas pada rendahnya produksi air bersih, banyak warga mempertanyakan lemahnya suplai air ke jaringan pipa PDAM.

Sementara itu, staf PDAM Tirta Daroy, Nasrizal Nasa menambahkan, bocornya bendung karet tersebut akibat tertusuk balok yang hanyut dari hulu Krueng Aceh sudah terjadi tiga kali. Bendung karet yang dibangun tahun 1998 itu mengalami kebocoran pertama pada tahun 2010 akibat hantaman kayu dan berhasil ditambal.

Kebocoran kedua terjadi pada tahun 2017 dan berhasil ditambal. “Setahun kemudian atau tepatnya pada tahun 2018 bendung karet itu bocor lagi di saat musim penghujan. Namun kebocoran itu hingga kini belum juga diperbaiki,” katanya.

Masalah kebocoran bendung karet ini, kata Nasrizal, sudah dilapor Pak Wali Kota Banda Aceh kepada Kepala Balai Sungai Wilayah I Aceh dan Dirjen Pengairan Pusat, tapi tetap saja belum direspon.

“Kami khawatir jika musim pasang dan surut purnama, air laut surut, air sungai bisa menurun drastis. Kalau itu terjadi, PDAM akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan air baku yang tawar. Jika musim pasang, dikhawatirkan air laut akan mencemari air tawar,” tandasnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved