Citizen Reporter

Pesona Maroko, Negeri Matahari Terbenam

Perjalanan panjang ini saya mulai dari Kuala Lumpur menuju Casablanca, Maroko, dengan transit

Pesona Maroko, Negeri Matahari Terbenam
IST
YUSMARDANI ARYA PUTRA, M.Si., Geolog, PNS pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Aceh, melaporkan dari Maroko

OLEH YUSMARDANI ARYA PUTRA, M.Si., Geolog, PNS pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Aceh, melaporkan dari Maroko

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan berkunjung ke Maroko bersama keluarga. Perjalanan panjang ini saya mulai dari Kuala Lumpur menuju Casablanca, Maroko, dengan transit di Jeddah. Total waktu yang kami habiskan hampir 16 jam di udara.

Sekadar mengingatkan, Maroko mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Indonesia sejak tahun 1955. Cukup beralasan memang, karena Ir Soekarno sebagai Presiden Indonesia saat itu adalah orang pertama yang mengucapkan dan mengakui kemerdekaan Maroko. Sebagai penghormatan, nama Soekarno ditabalkan sebagai nama di salah satu jalan protokol di Kota Rabat.

Maroko bersama Tunisia, Aljazair, dan Mesir masih termasuk ke dalam negara Arab, tapi letaknya berada di bagian utara benua Afrika. Disebut sebagai Negeri Matahari Terbenam (maghribi) karena Maroko berada paling barat dari negara-negara Arab lainnya.

Hari masih pagi begitu saya menginjakkan kaki di Casablanca. Suhu sejuk menyelimuti kota ini meski terletak di pinggiran Samudra Atlantik. Casablanca adalah kota terbesar di Maroko dan juga sebagai kota industri. Di kota ini terdapat masjid bernama Mesjid Hasan II. Karena bertepatan dengan hari Jumat, saya pun menyempatkan shalat Jumat di masjid ini. Masyarakat Maroko sangat bangga karena masjid ini merupakan masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Yang lebih megah lagi, menara masjid ini adalah yang tertinggi di dunia dengan tinggi mencapai 210 meter.

Dari puncak menara masjid pada malam hari akan terlihat sinar laser yang terang menuju ke arah kiblat. Ini diibaratkan sebagai petunjuk jalan ke rumah Allah. Pada bagian dalamnya, dinding, dan pilar-pilar dihiasi dengan berbagai macam pola yang sangat rumit dan indah. Bahan-bahan untuk membangun masjid ini adalah bahan-bahan pilihan seperti kayu cedar dari kawasan pegunungan Atlas, batu pualam dari pegunungan Agadir, dan granit dari Tafroute. Masjid yang dibangun untuk memperingati hari ulang tahun almarhum Raja Maroko (Hasan II) ini membutuhkan dana yang besar dan sebagian dananya sumbangan dari rakyat Maroko sebagai rasa cinta mereka kepada rajanya. \

Setelah puas mengelilingi Casablanca, perjalanan saya lanjutkan ke Kota Fez dengan waktu sekitar empat jam menggunakan bus. Tidak ada rasa lelah sedikit pun selama perjalanan karena mata disuguhi pemandangan bukit bak permadani hijau dan perkebunan zaitun.

Kota Fez adalah salah satu kota di Maroko yang dikenal sebagai kota spiritual dan budaya. Di kota ini terdapat Dar al-Makhzen atau Royal Palace, yaitu istana yang digunakan Raja Maroko ketika ia mengunjungi Kota Fez. Pengunjung tidak dapat masuk ke dalam, tapi hanya bisa berfoto di satu dari tujuh pintu yang ada.

Di kota Fez saya juga sempat kunjungi salah satu sentral kerajinan keramik, yaitu Art Naji. Di sini kita bisa melihat proses pengerjaan keramik. Material lempung untuk membuat keramik didatangkan dari pegunungan Atlas. Keramik yang dihasilkan mempunyai model dan bentuk yang bermacam-macam seperti keramik dengan lapisan kawat perak dan keramik dari mozaik-mozaik kecil dengan bentuk dan warna yang bermacam-macam.

Di sisi lain, ada suatu tempat yang sangat terkenal di Fez, yaitu Old Medina (Kota Lama). Dari atas bukit, tampak Old Medina dikelilingi tembok berwarna putih setinggi 5 meter yang hanya bisa dimasuki dengan berjalan kaki. Toko-toko, pasar, sekolah, rumah penduduk, restoran, bahkan masjid terletak saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jalan yang sempit. Landmark utama kota Fez adalah Old Medina, karena ini merupakan pasar tertua di dunia dan konon sejak 1000 tahun lalu wujudnya tidak berubah. Di dalamnya ada sebuah masjid kuno dan bangunan yang merupakan universitas pertama di dunia, Al-Qurrawiyyin, dibangun tahun 859 Masehi. Universitas ini telah banyak melahirkan sarjana yang sangat memengaruhi sejarah intelektual dan akademik dunia. seperti Ibnu Rusyidi dan Ibnu Khaldun.

Pada hari berikutnya, perjalanan saya lanjutkan ke Rabat yang merupakan ibu kota Negara Maroko. Sesampainya di Rabat, saya sempatkan melihat pengolahan dan penjualan minyak argan yang berasal dari pohon argan yang langka, hanya hidup di bagian barat daya Maroko. Karena itu, minyak argan yang asli hanya berasal dari sini. Minyak ini dapat digunakan sebagai pelembab kulit, mengobati jerawat dan menghilangkan flek pada kulit. Menjelang siang, saya mengunjungi salah satu tempat wisata di kota ini, Hasan Tower. Bangunan ini sebenarnya adalah sebuah masjid dan menara yang belum selesai dibangun karena raja Maroko saat itu (Raja Yousuf Al Mansour) mangkat. Pembangunannya mulai dikerjakan tahun 1192 dan terhenti di tahun 1199. Tepat di depan Hasan Tower terdapat mausoleum (makam) Raja Maroko, yaitu Raja Mohammed V dan Raja Hasan II.

Begitulah cerita perjalanan saya di Maroko. Semoga bermanfaat bagi pembaca yang ingin ke Maroko. Untuk lebih jelas tentang perjalanan saya ini, pembaca bisa melihat videonya di channel Youtube saya dengan nama Yusmardani Arya Putra.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved