931 Warga Terserang DBD

Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh menyebutkan, sampai posisi 30 Mei 2019, jumlah masyarakat Aceh yang terkena

931 Warga Terserang DBD
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Baihaki salah satu warga yang diduga terjangkit DBD saat dirawat di RSUD Zubir Mahmud Aceh Timur, Sabtu (21/6/2019). 

* Abdya Terbanyak, Disusul Banda Aceh dan Pidie

BANDA ACEH - Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh menyebutkan, sampai posisi 30 Mei 2019, jumlah masyarakat Aceh yang terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti sudah mencapai 931 orang, bahkan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

“Masyarakat yang paling banyak sakit DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti di Kabupaten Abdya sebanyak 179 orang, kedua Banda Aceh 149 orang, dan ketiga Pidie 97 orang,” sebut Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Aceh, dr Hanif kepada Serambi, Kamis (27/6). “Tiga pasien DBD yang telah meninggal dunia itu berasal dari Banda Aceh 1 orang, Abdya 1 orang, dan Nagan Raya 1 orang,” imbuhnya.

Langkah yang paling efektif dan efisien untuk mengurangi dan membasmi sarang serta serangan nyamuk aedes aegypti, ujar Hanif, dengan melakukan kegiatan massal dan serentak, yaitu melakukan gotong royong membersihkan riol, got, saluran air dari tumpukan sampah bekas kemasan minuman, botol, kaleng cat, dan sejenisnya, kemudian menanamnya ke dalam tanah, membakar atau membuangnya ke TPA.

Sebab, ungkap dia, bekas kemasan botol minuman, kaleng cat, ember pecah/bocor, dan sejenisnya itu, merupakan media tempat paling disukai nyamuk aedes aegypti bersarang dan berkembangbiak. “Media itu menjadi tempat sarang nyamuk untuk bertelur, dan setelah 5-6 hari, jentik-jentik nyamuk aedes aegypti itu menetas dan menjadi nyamuk dewasa,” ulasnya.

Untuk itu, Kadinkes Aceh, Hanif menyarankan, agar para bupati dan wali kota kembali mengaktifkan kegiatan massal seperti ‘program Jumat bersih’ untuk bergotong royong membersihkan lingkungan. “Apakah dilakukan dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Program dan kegiatan Jumat bersih itu membawa dampak yang sangat positif dalam mencegah menurunkan jumlah masyarakat yang terkena penyakit DBD,” urainya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Wahyu Zulfansyah MKes mengungkapkan, untuk mengetahui orang dan anak yang sudah terkena gigitan nyamuk betina aedes aegypti dapat dilakukan dengan memegang kening, kepala, dan badannya, apakah ada demam atau tidak. Sebab, gejala DBD itu pasiennya mengalami demam tinggi antara 2-7 hari, sakit perut, diare, nyeri sendi/otot, muntah, dan pendarahan.

“Tapi, jangan terkecoh dengan menurunnya suhu badan pasien dan menganggap sudah sembuh. Karena, suhu badan penderita DBD biasanya akan turun pada hari kedua atau ketiga, tapi dia belum sembuh. Jadi, untuk memastikan sembuh, minta periksa dokter lebih dulu karena orang yang terkena virus aedes aegypti suhu badannya naik turun, bisa tinggi sekali suhu badannya dan tiba-tiba bisa turun,” papar dia.

Selain dari suhu tubuh, lanjutnya, gejala DBD juga bisa diketahui dari kulit pasien yang berbintik-bintik merah, mimisan atau gusi berdarah. “Atau kalau kasusnya sudah berat, bisa muntah darah dan berak (BAB) darah,” tukasnya.

Untuk penanganan awal demam tinggi yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti adalah dengan memberikan banyak minum air putih, memberi obat penurun panas, serta konsumsi banyak makanan yang bergizi. Bila sudah ditangani namun demamnya masih tetap tinggi, langsung bawa ke dokter atau rumah sakit untuk rawat inap dan pengobatan intensif sampai sembuh total.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved