PPP Ingin Bangkit dari Aceh

Pelaksana Tugas (Plt) Ketum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa, melakukan silaturahmi

PPP Ingin Bangkit dari Aceh
Capture Youtube Trans7
Suharso Monoarfa 

BANDA ACEH - Pelaksana Tugas (Plt) Ketum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa, melakukan silaturahmi dengan keluarga besar PPP Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Aceh, Banda Aceh, Kamis (27/6).

Dalam pertemuan tersebut, Suharso menegaskan di bawah kepemimpinannya akan membangkitkan kembali kejayaan partai setelah sejumlah prahara yang menimpa partainya dilalui seperti dualisme kepemimpinan hingga persoalan penangkapan ketua umum Romahurmuziy atau Romi oleh KPK.

“Saya ingin kebangkitan dari pemulihan PPP itu dimulai dari Aceh. Kenapa dari Aceh karena Aceh telah membuktikannya. Maka saya mohon dengan amat sangat, solidalitas dan konsolidasi yang terjadi di Aceh menjadi obat penawar untuk kader PPP di seluruh Indonesia,” katanya saat memberi sambutan.

Dalam lawatan itu, Suharso yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden turut didampingi Bachtiar Chamsyah, Anggota Majelis Tinggi PPP dan HM Mardiono, Waketum PPP. Kedatangan Suharso disambut Ketua DPW PPP Aceh Tgk Amri M Ali dan sejumlah pengurus lainnya.

Suharso mengaku bangga dengan perjuangan kader di Aceh. Karena di tengah merosotnya suara PPP di seluruh Indonesia, tapi di Aceh justru terjadi kebalikan seperti yang terjadi di era 70-an. Pada Pemilu lalu, PPP Aceh berhasil menyumbang suara untuk DPR RI 217.954 suara atau meningkat dari Pemilu 2014 192.946 suara.

Ternyata suara tersebut telah menyelamatkan partai berlambang kakbah itu karena berhasil lolos ambang batas parlemen atau parlementary threshold sebesar 4,19 persen dari batas minimal 4 persen. Hasil pemilu 2019, PPP berada di urutan paling buncit yaitu sembilan atau partai terakhir yang lolos ambang batas.

“Selama 10 tahun PPP hanya mengantarkan satu kursi untuk DPR RI. Pada Pemilu 2019 berhasil mengantarkan dua kuris DPR RI, meskipun jumlah kursi di kabupaten/kota berkurang dan kursi DPRA bertahan dengan enam kursi. Suara di Aceh terjadi peningkatan, di tengah terjadinya penurunan suara diseluruh Indonesia tapi di Serambi Mekkah malah naik,” ungkap dia.

Selain kemenangan tadi, Suharso juga mengaku bangga dengan PPP Aceh. Sebab, meskipun Aceh memiliki partai lokal (parlok), tapi eksistensi PPP di Aceh tidak meredup. Karena itu Suharso ingin Aceh menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga eksistensi suara. Dia mengaku tidak bisa membayangkan keadaan PPP jika pada Pemilu 2019 suara dari Aceh juga turun.

“Kami memberikan satu harapan kepada teman-teman di Aceh untuk bisa menawarkan satu solusi, agar kesuksesan yang mereka capai agar dapat menjadi contoh buat kader PPP yang lain terutama daerah yang menjadi basis pemilih PPP. Bagimana jurus bertahan itu dilakukan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Anggota Majelis Tinggi PPP Bachtiar Chamsyah juga menyampaikan sambutan. Dia meminta semua kader untuk mengubah image PPP dari label partai penista agama karena pernah mendukung calon nonmuslim pada Pilkada DKI Jakarta dan Sumatera Utara.

“Kita harus mengubah image PPP, kita mulai dari Banda Aceh. Kita harus mendekati pesantren dan ulama. Semua harus dekat dengan Islam. Jangan ke masjid pun tidak pernah, siapa yang akan hormat kepada kita, namanya saja partai Islam,” kata putra kelahiran Pidie ini.

Dia berharap semua kader harus memperbaiki image partai. “Kita harus membangun partai yang image kita harus lebih baik dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Ini yang kita lakukan tidak seperti itu, hanya lambang saja,” ungkap dia mengomentari kondisi terkini partainya.

Di samping itu, mantan Menteri Sosial Indonesia era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini juga menyampaikan bahwa setiap kader tidak boleh menyerah dalam melihat kondisi yang dihadapi partai saat ini. Menurutnya, pejuang tidak perlu mengeluh.

“Kita ini adalah pejuang. Pejuang tidak perlu mengeluh. Jangan macam Romi ditahan KPK jadi mengeluh. Waktu terima uang senang, waktu ditahan mengeluh,” ujar dia yang disambut gelak tawa kader.

“Kalau ada anggota DPR ditahan jangan mengeluh, apa yang diperbuat itu yang dipertanggungjawab. Karena kita ini pemimpin. Jadi pemikiran cengeng menurut saya harus kita hilangkan,” demikian Bachtiar Chamsyah.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved