Penangkap Beruang Madu Masih Buron

Polres Aceh Barat hingga kini masih melacak pelaku utama pemburuan satwa langka dan dilindungi jenis beruang madu

Penangkap Beruang Madu Masih Buron
SERAMBI/RIZWAN
KAPOLRES Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa, didampingi Kasat Reskrim Iptu M Isral SIK, memperlihatkan penghargaan yang mereka terima dari Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan (HAkA), Forum Konservasi Leuser, dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia, terkait keberhasilan Polres Aceh Barat mengungkap kasus perdagangan satwa dilindungi, Jumat (28/6). 

* Lima Pelaku Disidangkan

MEULABOH - Polres Aceh Barat hingga kini masih melacak pelaku utama pemburuan satwa langka dan dilindungi jenis beruang madu yang perdagangannya berhasil digagalkan pada 13 April 2019 lalu. “Pelaku utama yang menangkap masih kami lacak. Dari keterangan kelima tersangka, pelaku berasal dari Sumatera Utara (Sumut),” kata Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK, melalui Kasat Reskrim, Iptu M Isral SIK kepada wartawan, Jumat (28/6).

Dijelaskanya, pelaku yang menangkap beruang madu di kawasan hutan sebuah desa di Aceh Barat itu merupakan kawanan pemburu babi hutan. Selain itu, dari keterangan kelima pelaku yang sudah ditangkap diketahui bahwa aksi perdagangan atau jual beli satwa dilindungi tersebut baru sekali dilakukan.

Di sisi lain, informasi yang diperoleh Serambi, Jumat (2806), menyebutkan bahwa proses hukum terhadap lima warga yang ditangkap dalam kasus perdagangan satwa dilindungi kini masih dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh. Polres telah menyerahkan kelima tersangka ke Kejari Aceh Barat setelah berkas perkara dinyatakan lengkap.

Seperti pernah diberitakan, Polres Aceh Barat pada 13 April 2019, menangkap lima warga kabupaten itu dalam kasus dugaan perdagangan atau jual beli satwa dilindungi dan langka jenis beruang madu. Pada kasus tersebut, seekor beruang madu yang menjadi barang bukti (BB) berhasil diamankan. Sedangkan, kelima pelaku yang diamankan yakni J (43), B (45), I (40), MD (44), dan Id (42).

Kelima pelaku dijerat dengan UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. Untuk beruang madu yang menjadi barang bukti kemudian dititipkan pada BKSDA Aceh Barat guna dirawat. Setelah kondisi normal, beruang madu itu akhirnya dilepasliarkan kembali ke hutan lindung di Kecamatan Sungaimas.(riz)

Terima Penghargaan
Sementara itu, Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa pada Jumat (28/6) pagi, mendapat penghargaan dari tiga lembaga peduli lingkungan di Indonesia dan Aceh. Lembaga tersebut menyerahkan piagam ke Kapolres atas keberhasilan jajarannya mengungkap kasus perdagangan satwa dilindungi di wilayah Aceh Barat.

Tiga lembaga yang menyerahkan penghargaan adalah Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) diserahkan Farwiza (direktur), Forum Konservasi Leuser diserahkan Rudi Putra (direktur), dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia yang diserahkan Dr Noviar Andayani. Penghargaan dari tiga lembaga lingkungan hidup itu diterima langsung Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa, didampingi Kasat Reskrim, Iptu M Isral.

Kapolres mengungkapkan terima kasih terhadap penghargaan yang diterimanya itu. Ia menegaskan, pihaknya akan terus menindak tegas pelaku kejahatan terhadap satwa dilindungi. “Pada kasus perdagangan satwa dilindungi jenis beruang madu, setelah kita mendapat laporan masyarakat, langsung kita lakukan pengusutan,” tegasnya.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved