Citizen Reporter

Big Bee Farm, Peternakan Lebah ala Thailand

PERJALANAN kami kali ini melintasi jalur darat dari Malaysia ke Thailand dengan menggunakan bus

Big Bee Farm, Peternakan Lebah ala Thailand
IST
DR. NAZARUDDIN ABDULLAH, M.A., Wakil Rektor I Institut Agama Islam Almuslim Aceh, melaporkan dari Bangkok, Thailand

OLEH DR. NAZARUDDIN ABDULLAH, M.A., Wakil Rektor I Institut Agama Islam Almuslim Aceh, melaporkan dari Bangkok, Thailand

PERJALANAN kami kali ini melintasi jalur darat dari Malaysia ke Thailand dengan menggunakan bus. Tentunya hal ini melelahkan karena harus menempuh jarak yang jauh dan waktu yang lumayan panjang. Tapi harus saya akui bahwa perjalanan ini sangat menyenangkan.

Ketika tiba di perbatasan antara Malaysia dan Thailand, tepatnya di Kantor Imigrasi Sadao, ada hal menarik yang kami alami. Yakni, pelayanan yang dilakukan petugas Imigrasi Thailand yang sangat menyenangkan dan memudahkan bagi para pelancong seperti kami. Hal ini berbanding terbalik jika kita memasuki Singapura yang pemeriksaan di kantor imigrasinya sangat ketat, bahkan tidak jarang orang dilarang untuk memasuki negeri kecil tersebut.

Setelah menempuh perjalanan bebas asap rokok yang cukup lama, akhirnya bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah tempat, luarnya terlihat cukup sederhana. Tempat ini awalnya sudah diceritakan kepada kami dalam perjalanan oleh seorang pemandu wanita, warga asli Thailand. Ya, tempat itu adalah Big Bee Farm yang beralamat di 41/10 Moo.3 Pattaya-Chonburi Rd T.Nongplalai A.Banglamung Chonburi 20150 Thailand.

Setelah turun dari bus, saya rehat sejenak, dan kemudian bersama seorang teman memasuki sebuah area yang di depan pintunya terdapat dua ekor lebah raksasa. Lebah ini memang dijadikan sebagai ikon dari perusahaan madu tersebut. Kami tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto di depan patung dua ekor lebah raksasa tersebut. Bisa dibayangkan andai saja dua ekor lebah tersebut hidup, tentulah sekali gigitan akan menyebabkan mangsanya innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Ketika kami sedang berfoto di hadapan lebah tersebut, datang seorang pekerja yang kemudian mengajak kami untuk melihat lebih dekat ke area peternakan. Di sana kami diberikan informasi tentang lebah serta banyak hal mengenai peternakan lebah, bahkan si pekerja tersebut meminta kami untuk ikut memegang sarang lebah yang dimasukkan pada kotak-kotak yang telah mereka buat dengan sangat rapi.

Awalnya jantung saya berdebar-debar saat si pekerja tersebut meminta saya memenag sarang yang dipenuhi lebah. Bisa dibayangkan, selama ini seekor lebah saja saya takut apalagi satu sarang yang jumlahnya mencapai ratusan ekor. “Ka keumah teuhnyoe” begitu hati saya berguman. Lalu kawan saya berseloroh “Neumat laju, palengna ji geutok sigoe, hehehehe...”. Akhirnya setelah diyakinkan oleh pekerja tadi saya pun memberanikan diri memegang sarang sang lebah tersebut.

Ternyata oh ternyata, lebah-lebah tersebut sangat jinak, bahkan banyak yang hinggap di tangan saya, tapi alhamdulillah tidak ada satu pun yang menggigit.

Menurut si pekerja tadi, lebah tidak akan menggigit bila dia tidak merasa terancam atau terjepit. Akan tetapi, apabila keberadaan sesuatu, termasuk manusia, sudah mengancam hidup mereka, maka mereka akan segera menyerang.

Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar tentang peternakan lebah, akhirnya kami diminta untuk memasuki sebuah ruang besar yang didekorasi sedemikian rupa dengan tetap menjadikan lebah sebagai ikon. Di ruangan besar tersebut cukup banyak para wanita pekerja dengan pakaian khas mereka yang bertuliskan “Big Bee”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved