Salam

Jangan Biarkan Remaja Aceh Larut Berbisnis Narkoba

UNTUK kesekian kalinya Harian Serambi Indonesia kembali mengangkat kasus narkoba sebagai berita utama

Jangan Biarkan Remaja Aceh Larut  Berbisnis Narkoba
IST
PETUGAS memperlihatkan delapan warga Aceh yang berusaha menyelundupkan sabu seberat 4,1 kilogram dan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan petugas Avsec Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Riau, Jumat (28/6) pagi. 

UNTUK kesekian kalinya Harian Serambi Indonesia kembali mengangkat kasus narkoba sebagai berita utama di halaman 1 koran ini, Minggu kemarin. Dua hari berturut-turut Serambi mewartakan bahwa delapan warga Aceh ditangkap di ruang pemeriksaan maupun di ruang tunggu Bandara Sultan Syarif Kasiem (SSK) ll saat hendak naik pesawat Lion Air 983 tujuan Surabaya, Jawa Timur.

Warga Aceh yang ditangkap itu terdiri atas tujuh remaja dan seorang dewasa yang berprofesi sebagai petani. Mereka ditangkap petugas Bandara Sultan Syarif Kasiem (SKK) II Pekanbaru, Riau, Minggu (28/6/2019) pukul 05.05 WIB karena ketahuan menyelundupkan sabu-sabu yang disembunyikan di sol sepatu masing-masing tersangka. Setelah dihitung jumlahnya 34 bungkus dengan total berat 4,1kg.

Para tersangka juga mengaku bahwa mereka hanyalahkurir dan dijanjikan akan mendapat imbalan Rp 7 juta per orang jika berhasil mengantarkan paket sabu-sabu tersebut ke pemesan di Surabaya. Modus memasukkan sabu-sabu ke sepatu sudah dua kali mereka lakukan, tapi baru pada kali ketiga ini tercium petugas dan mereka pun ditangkap.

Menilik anatomi kasus ini tampak jelas bahwa ketujuh remaja dan satu petani itu nekat melibatkan diri dalam bisnis narkoba gara-gara tergiur uang atau demi mendapatkan untung dengan cara mudah, bahkan tanpa perlu mengeluarka keringat. Karena ketagihan cari uang dengan cara seperti ini mereka bahkan mengulanginya sampai tiga kali. Untung saja aksi kali ketiga ini berhasil digagalkan petugas. Jika tidak, para remaja Aceh ini akan terus larut dan berasyik masyuk dengan bisnis barang haram.

Mereka tak lagi takut akan dosa dan hukum negara. Merekajuga tak peduli berapa banyak generasi muda sebaya atau di bawah usia mereka di Surabaya sana yang akan rusak sel-sel sarafnya oleh narkoba. Padahal, di Aceh saja yang penduduknya cuma 5,2 juta orang tercatat 63.000 orang lebih pengguna narkoba yang belum terobati karena Aceh belum punya panti rehab.

Semua pihak, terutama Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Aceh Utara, tempat mayoritas para remaja kurir sabu itu berasal, termasuk Pemerintah Aceh, perlu mencermati dan ambil peduli terhadap kondisi ini. Terutama karena sebagian remaja Aceh ternyata dengan sadar menjadi kurir sabu, padahal ancaman hukumannya sangatlah berat. Kita pantas prihatin bahkan meratapi fakta bahwa semakin banyak saja remaja Aceh terlibat jadi konsumen, pengedar, bahkan kurir sabu.

Kita lebih prihatin lagi karena satu dari 100 pelajar di Acehpositif terlibat narkoba. Mereka inilah yang akan menjadi generasi penerus Aceh. Generasi yang sangat tidak pantas kita harap dan banggakan. Belum lagi 68% dari 6.400 napi di Aceh saat ini terlibat narkoba. Selain itu, hampir 75% bisnis narkoba di Aceh dikendalikan dari dalam penjara. Sebanyak 21 orang warga Aceh kini dituntut hukuman mati karena pemilikan narkoba.

Pada puasa Ramadhan lalu sejumlah pemuda Aceh ditangkap di Jawa saat menyelundupkan 35 kg sabu dari Langsa ke Jakarta via Medan. Semua ini makin membuktikan bahwa remaja dan pemuda Aceh kian banyak tergiur berbisnis narkoba. Untung yang besar tanpa harus menuggu lama menjadi daya tarik utama mereka menekuni bisnis haram ini.

Di balik semua itu sangat mungkin pula kawula mudaAceh terpengaruh berbisnis sabu karena pertimbangan daripada menganggur. Kita tahu angka pengangguran di Aceh masih terbilang tinggi, bahkan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Sekitar 178.000 orang tenaga produktif di Aceh menganggur karena minimnya peluang kerja.

Nah, bila ternyata alasan utama mereka nekat berbisnis narkoba karena tidak tersedianya pekerjaan yang pantas dan halalanthayyiban, pemerintah kabupaten/kota dan Pemerintah Aceh tak boleh lepas tangan atau bersikap apatis dan tawakal saja terhadap realitas ini. Menyadari Aceh sudah sejak 2015 darurat narkoba, maka pemerintah, BNNP, guru, dan orang tua harus bahumembahu mengatasi persoalan ini jika tak ingin generasi penerus Aceh kelak menjadi generasi narkobais dan paling buruk kualitasnya dibanding generasi dari provinsi lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved