Opini

Politik Pendidikan Zonasi Sekolah

Polemik pendidikan Indonesia kembali hadir saat hendak menerapkan pola zonasi sekolah atas amanah dari Permendikbud

Politik Pendidikan Zonasi Sekolah
IST
Zulfata, S.Ud, M.Ag , Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Sejatinya tidak ada sekolah yang berkualitas. Yang ada hanya guru atau muridnya yang hebat-hebat. Kehebatan guru atau murid tidak hanya diraih pada ruang-ruang kelas sekolah, tetapi juga ditempa dalam ruang-ruang kelas jam tambahan di luar sekolah. Untuk itu, tidak ada alasan bijaksana saat mengatakan bahwa sekolah favorit adalah segalanya bagi perwujudan mimpinya siswa berprestasi yang katanya mampu belajar dari pagi hari hingga subuh hari.

Dalam observasi penulis, rakyat Indonesia belum begitu terlibat aktif atau belum merasa terbebani untuk mewujudkan pendidikan secara adil dalam konteks nasional. Siklus kemelut politik bangsa tampaknya telah memecahkan konsentrasi rakyat soal pendidikan yang adil. Sehingga upaya pendidilan skala lokal lebih menonjol dari pada upaya penerapan pendidikan secara nasional.

Memang menjadi kelaziman selama ini di Indonesia bahwa faktor keuangan sangat medorong siswa berprestasi. Karena untuk berprestasi butuh didukung oleh fasilitas yang mencukupi, baik dari sisi bahan bacaan, kebutuhan labiratorium hingga uang tambahan lainnya. Namun demikian bukan berarti pula siswa tanpa finansial yang mencukupi tidak pula berprestasi. Sesunguhnya berprestasu atau tidaknya itu tergantung pada siswanya.

Diakui atau tidak, daya lenting pendidikan dewasa ini sungguh padat modal. Daya kompetisi pendidikan seakan mudah lengser akibat finansial. Lembaga-lembaga pendidikan lama-kelaman memberi citra bahwa pendidikan di negeri ini berkasta-kasta.

Munculnya satire pendidikan bahwa orang yang berharta dan bertahta dapat sekolah di mana saja, bila tak ada jalur reguler, jalur mandiri pudan bisa. Tak diterima di pendidikan negeri, di pendidikan swasta yang masyur pun mampu. Hingga lama-kelamaan wabah kapitalistis pendidikan mengendap di benak rakyat.

Lihatlah fenomena munculnya istilah sekolah favorit dan sekolah kaum elite. Tanpa disadari, Indonesia seakan merintih karena pengakuan publik yang menganggap pebedaan lembaga pendidikan adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja. Padahal, di mata undang-undang bahwa semua lembaga pendidikan bagi siswa adalah sama dan merata. Sehingga negara bertanggung jawab untuk membuktikan bahwa tidak ada yang namanya sekolah favorit, dan tidak ada pula sekolah elite. Yang semestinya ada adalah siswa yang hebat dan siswa yang elite dalam meraih cita-citanya.

Sadar atau tidak, sekolah favorit hanya bahasa pasar yang mengendap dalam pikiran para wali murid. Seolah-olah sekolah biasa yang ada di pelosok-pelosok desa tidak memberi dampak yang besar bagi perwujudan mimpi siswa. Dalam konteks ini, bagi wali murid dari kalangan akar rumput tak perlu berkecil hati, sebab pendidikan bagi siswa bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal mentalitas melayani, sabar dan memiliki kemampuan bertahan di atas segala cobaan yang melanda.

Melalui pola zonasi sekolah, rakyat dan pemerintah terus mencari titik simpul agar visi zonasi sekolah terurai menjadi rajutan pendidikan nasional. Seiring adanya sistem pendidikan karakter berbasis Pancasila hingga diperkuat dengan visi zonasi sekolah, senantisa akan mempengaruhi keteladan anak bangsa dalam bernegara yang tak lagi mengulang kesalahan para pendahulunya.

Sesuai dengan pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewandara bahwa misi pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, bukan untuk memamerkan kelas pendidikan antarsesama anak manusia.

Akhirnya, pro dan kontra rakyat Indonesia soal zonasi sekolah secara tidak langsung membuktikan bahwa Indonesia memang belum merdeka secara pendidikan nasionalnya. Hingga kita berlu bercermin pada lirik Ebiet G. Ade yang menyatakan bahwa “ini bukanlah hukuman, hanya satu isyarat, bahwa kita mesti banyak berbenah”.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved