DBD Masih Tinggi, Anggaran Pencegahan Sudah Habis

Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) cukup tinggi mencapai 201 kasus pada periode Januari-Juni 2019

DBD Masih Tinggi, Anggaran Pencegahan Sudah Habis
KOMPAS.COM
Nyamuk penyebab DBD 

BLANGPIDIE - Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) cukup tinggi mencapai 201 kasus pada periode Januari-Juni 2019. Ironisnya, anggaran pencegahan dan pemberantasan penyakit berbahaya itu pada Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat sebesar Rp 100 juta, malah sudah habis sejak Mei lalu.

Data yang diperoleh Serambi, Senin (1/7), Dinkes Abdya menerima laporan penderita DBD dari Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP) sejak Januari sampai Juni 2019 sebanyak 201 kasus. Pasien DBD yang dilaporkan itu berdasarkan hasil pemeriksaan kadar trombosit darah anjlok di bawah 100.000 dari kadar normal 150.000.

Jumlah penderita DPB ini memang cenderung bertambah dari bulan ke bulan. Pada Januari, Dinkes hanya menerima laporan 7 kasus DBD dari RSUTP Abdya. Namun, Februari melonjak menjadi 66 kasus, Maret dilaporkan 63 kasus, April sebanyak 27 kasus, Mei 18 kasus, dan Juni sebanyak 20 kasus DBD, sehingga totalnya menjadi 201 kasus.

Kepala Dinkes Abdya, Safliati SST mengakui, kalau kasus DBD di daerah tersebut cukup tinggi. Pasien demam berdarah yang dilaporkan itu, sebutnya, berasal dari Kecamatan Susoh, Blangpidie, Tangan-Tangan, Babahrot, Kuala Batee, Jeumpa, Setia, Manggeng, dan Lembah Sabil.

Safliati didampingi Kasie Surveilans dan Imunisasi, Mansuri SKM, melanjutkan, setiap menerima laporan kasus DBD dari pihak rumah sakit, pihaknya segera melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui potensi penularan dan penyebarannya.

“Selanjutnya, kita segera melakukan fogging (pengasapan) kawasan rumah penderita dengan radius sekitar 100 meter. Fogging ini menggunakan anggaran yang dialokasikan dalam APBK 2019 sebesar Rp 100 juta,” jelasnya.

Hanya saja, sebut Kadinkes, anggaran pemberantasan dan pencegahan DBD itu sudah habis digunakan pada periode Januari sampai Mei 2019. Sehingga pada Juni kemarin, Dinkes tidak melakukan fogging akibat ketiadaan anggaran. “Padahal, kasus DBD di bulan Juni dilaporkan sebanyak 20 kasus. Tapi, kita tidak bisa melakukan fogging di lingkungan rumah penderita,” timpal Mansuri.

Minta ke provinsi
Untuk mengatasi ketiadaan anggaran pencegahan DBD itu, Safliati membeberkan, Dinkes Abdya mengajukan bantuan anggaran dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh. “Bantuan anggaran ke provinsi terpaksa kita ajukan karena kasus DBD di Abdya masih terlalu tinggi,” tukasnya.

Selain itu, beber dia, Dinkes Abdya juga mengajukan tambahan anggaran pencegahan dan pemberantasan DBD dalam RAPBK-Perubahan 2019. “Semoga, anggaran yang kita ajukan bisa terakomodir dalam pembahasan RAPK-Perubahan 2019 nanti,” harap Safliati.(nun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved