Di Aceh Selatan, Harga TBS Anjlok Hingga Menyentuh Rp 680 per Kilogram

Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit kembali terjun. Menurut informasi yang diterima Serambi, harga kembali turun ke level Rp 960 per kilogram..

Di Aceh Selatan, Harga TBS Anjlok Hingga Menyentuh Rp 680 per Kilogram
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Agen pengumpul sedang memuat Tandan Buah Segar (TBS) sawit ke dalam truk di Jalan 30, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Abdya, belum lama ini. Harga TBS sawit di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee, Kabupaten Abdya anjlok hanya berkisar Rp 900 sampai Rp 930 per kg, Selasa (29/5/2018). 

Di Aceh Selatan, Harga TBS Anjlok Hingga Menyentuh Rp 680/Kg

Laporan : Taufik Zass | Aceh Selatan

SERAMBINEWS.COM, TAPAKTUAN - Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit kembali terjun. Menurut informasi yang diterima Serambi, harga kembali turun ke level Rp 960 per kilogram di pabrik Crude Palm Oil (CPO).

Sementara, TBS di tingkat petani hanya dihargai Rp 680 per Kg.

Anjloknya harga jual TBS membuat petani sawit di Kabupaten Aceh Selatan kehilangan gairah merawat kebun.

Pasalnya, hasil bersih yang diterima petani sawit saat ini tidak sebanding dengan biaya operasional dan perawatan kebun yang dikeluarkan petani. 

"Harga jual TBS dikurangi biaya operasional panen mencapai Rp 200 per kg. Belum lagi, biaya makan serta potongan," kata Khaidir Amin SE, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Aceh Selatan yang juga pengusaha perkebunan sawit di Aceh Selatan kepada Serambi, Selasa (2/7/2019).

Berdasarkan keterangan Khaidir Amin, sejumlah petani sawit di Kabupaten Aceh Selatan mulai mengeluhkan harga sawit yang terus anjlok.

Harga sawit beberapa bulan lalu, sempat bertahan pada harga Rp 1.200 per kg, merosot setiap bulannya menjadi Rp 900 per kg. Dan terakhir, bertengger di harga Rp 680 per kg.

Menurutnya, saat ini jumlah produksi sawit cenderung menurun karena petani mulai enggan merawat kebunnya.

"Ini imbas dari kondisi anjloknya harga sehingga produksi sawit tak maksimal karena petani tidak merawat kebunnya secara maksimal," tuturnya.

Melalui Serambinews.com, Khaidir Amin berharap peran pemerintah dalam hal mencari solusi yang saat ini dialami petani sawit setempat.

Dia menyarankan agar Pemkab Aceh Selatan segera mengoperasikan pabrik CPO milik Pemkab Aceh Selatan yang dibangun di Gampong Krueng Luas, Kecamatan Trumon Timur, yang sudah lama telantar. 

Baca: Seorang Bocah Dimakan Oleh Buaya Hidup-hidup, Ayah Syok Lihat Tengkorak Jadi Rebutan

Baca: KKI Lhokseumawe Bekali Personel WH Ilmu Bela Diri

Baca: Kamis, KIP Aceh Jaya Agendakan Pleno Penetapan Calon DPRK Terpilih

"Aset berharga yang didirikan semasa Bupati Ir HT Machsalmina Ali MM itu menghabiskan anggaran daerah mencapai Rp 12 miliar, namun operasionalnya mati suri, kendatipun dikontrakkan kepada pihak ketiga," ungkap Khaidir Amin.

Laporan diterima, sejak pertengahan tahun 2014 sudah tidak beroperasi. Padahal seharusnya kehadiran pabrik penyuling kelapa sawit itu dapat membawa manfaat kepada masyarakat dan daerah, baik disisi serapan tenaga kerja maupun memacu pendapatan asli daerah (PAD).

"Kita heran, aset daerah yang didirikan susah payah dan menghabiskan anggaran puluhan miliar itu tidak mampu difungsikan dengan baik.

Seharusnya keberadaan pabrik CPO ini dapat membantu masyarakat dalam kondisi harga TBS yang terus anjlok seperti sekarang ini," pungkasnya.(*)

Penulis: Taufik Zass
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved