Opini

Melawan Kapitalisme di Amerika Serikat

Secara sederhana, Karl Marx menjelaskan kapitalisme melalui rumus U-K-U (Uang-Komoditas-Uang). Artinya, seseorang pemilik uang (modal)

Melawan Kapitalisme  di Amerika Serikat
IST
Dosen IAIN Lhokseumawe, Kandidat Doktor Jurusan Sejarah di University of North Carolina at Chapel Hill, Amerika Serikat

Baiquni
Dosen IAIN Lhokseumawe, Kandidat Doktor Jurusan Sejarah di University of North Carolina at Chapel Hill, Amerika Serikat

Secara sederhana, Karl Marx menjelaskan kapitalisme melalui rumus U-K-U (Uang-Komoditas-Uang). Artinya, seseorang pemilik uang (modal) membeli sebuah barang (komoditas) untuk dijual lagi dengan harga lebih mahal untuk mendapatkan laba. Dengan demikian, jika proses ini dilakukan berkali lipat dengan modal yang lebih besar maka semakin besar pula untung yang diperoleh.

Namun permasalahannya, lanjut Karl Marx, mayoritas masyarakat pekerja dunia tidak memiliki jumlah modal sebanyak yang dimiliki kapitalis tersebut. Akhirnya, mereka tidak mampu menyaingi kapitalis. Dan untuk bertahan hidup, mereka terpaksa rela menjual ‘tenaga buruhnya’ kepada kapitalis dengan harga yang murah.

Sistem kapitalisme ini menyebabkan kapitalis semakin kaya tanpa harus berusaha sekeras buruh. Namun di saat bersamaan, buruh semakin melarat karena hanya mendapatkan upah yang sedikit.

Kondisi kapitalisme sedemikian rupa menuntut masyarakat untuk cenderung memaknai hidup dengan kacamata “untung-rugi” saja, atau dalam istilah Adam Smith dikenal dengan self-interest (kepentingan diri). Atas dorongan self-interest ini, maka jika suatu kegiatan tidak ada laba atau keuntungan material, maka kegiatan tersebut tidak perlu ada.

Sepenggal kalimat yang terkenal “There is no such thing as a free lunch” (tidak ada yang namanya makan siang yang gratis) kiranya mampu menangkap realitas ini. Semua hal di dunia saat ini seakan harus dan bisa diukur dengan takaran untung-rugi secara materi saja. Laba menjadi basis sebuah interaksi sosial.

Sadar akan realitas ini, tiga kelompok masyarakat di kota Carborro dan Chapel Hill di Karolina Utara, Amerika Serikat, memutuskan untuk ‘melawan’. Mereka menolak dan menegaskan bahwa kacamata “untung-rugi” tidak harus selalu dipakai ketika bertransaksi barang atau jasa. Sebagai gantinya, komunitas ini menggunakan kacamata “ikhlas berbagi” dan “niat baik”.

Komunitas pertama bernama “Really Really Free Market” (Pasar yang Benar-Benar Gratis). Kegiatan mereka berlangsung setiap Sabtu pertama setiap awal bulan di Kota Carborro. Masyarakat dari kota sekitar datang dan berkumpul di Carrboro Town Commons dari jam dua siang hingga jam empat sore. Ketika saya berkunjung ke pasar itu, terlihat ada yang datang membawa pakaian baru dan juga layak pakai, TV layar datar, buku, kue, makan siang, alat musik, peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, dan lain-lain.

Semuanya gratis, tidak boleh sedikit pun ada transaksi uang, tidak ada tawar menawar, dan tidak ada batas jumlah yang harus diberikan atau diambil. Jika pun tidak berbagi barang, maka berbagi keahlian pun, seperti menyanyi, potong rambut, dan melukis pun sangat dianjurkan. Jika pun tidak membawa apa-apa, maka saling menyapa dan bercengkerama adalah bagian dari kegiatan itu pula.

Slogan terkenal komunitas ini adalah “Karnaval Melawan Kapitalisme” dan “Because there is too such things as a free lunch” (Karena makan siang gratis itu benar-benar ada).

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved