20 Ton Garam Rakyat belum Terpasarkan

Para petani garam di Aceh Utara mengeluhkan belum terpasarkan garam produksi mereka

20 Ton Garam Rakyat belum Terpasarkan
SERAMBI/BUDI FATRIA
AZHAR (52) memasak garam yang diproduksinya secara tradisional di Gampong Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (2/7). Azhar yang sudah menekuni usaha pembuatan garam ini selama dua puluh tahun lebih, bisa memproduksi garam masak sebanyak 150 kilogram setiap harinya, dengan harga yang dia jual Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per kilogram. 

BANDA ACEH - Para petani garam di Aceh Utara mengeluhkan belum terpasarkan garam produksi mereka. Setidaknya ada 20 ton garam rakyat yang belum dipasarkan. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Utara, Jafar, dalam rapat koordinasi (Rakor) yang membahas produksi dan pemasaran garam pangan halal di Aceh, Selasa (2/7), di di Hotel Hermes Palace Banda Aceh.

Rakor tersebut digelar Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan membahas tolokukur (benchmarking) pengembangan produksi pergaraman serta garam pangan halal dan penambahan zat gizi (fortifikasi) pada garam konsumsi. Hadir pada rakor tersebut pihak Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, BBPOM Aceh, serta sejumlah Dinas Kelauatan dan Perikanan Kabupaten/Kota dan Disperindag Kabupaten/Kota.

Dijelaskan Jafar, belum tertampungnya garam rakyat di Aceh Utara menjadi persoalan bagi para petani. Padahal para petani di Aceh Utara memproduksi garam halal dengan sistem tunel, sebagai mana yang dilakukan oleh petani garam di daerah lain, seperti di Madura.

“Yang menjadi masalah, garam halal yang sudah dihasilkan tersebut belum terpasarkan. Setidaknya ada 20 ton garam rakyat yang hingga kini belum ada yang menampung,” ujarnya.

Harga jual garam rakyat di tingkat petani saat ini, sebut Jafar, sekitar Rp 2.500-Rp 3.000/Kg. Sementara harga garam impor yang masuk ke Aceh dari Medan, Sumatera Utara, berkisar Rp 2.000-Rp 2.300/Kg. Akibatnya, petani garam di Aceh Utara kesulitan untuk menjual produksi garam halalnya yang berkualitas tinggi, dengan warna putih, bening dan gurih itu ke pasar bebas.

“Sekarang ini, ada sekitar 20 ton produksi garam rakyat yang menumpuk di gudang petani garam di sejumlah gampong penghasil garam di Aceh Utara,” tutur Jafar.

Meski begitu, Jafar menyatakan Aceh Utara siap menjadi salah satu daerah sentra produksi garam rakyat di Aceh untuk pemenuhan kebutuhan garam nasional.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Aceh, Muhammad Raudhi mengatakan, untuk mengatasi masalah over produksi garam halal di Aceh Utara, Disperindag setempat perlu mencari solusi dengan cara menjual garam rakyat secara kemasan.

Disperindag bersama DKP Aceh Utara harus membantu petani garam di daerahnya dengan membentuk lembaga usaha dan mencarikan mitra kerja.

Untuk membantu pemasaran produksi garam petani yang sudah over produksi, kata Raudhi, perlu inovasi dan kreativitas program dari Disperindag dan Pemkab Aceh Utara. Tanpa inovasi dalam mengemas garam petani, maka kelebihan produksi garam petani akan menjadi masalah. “Dampaknya, semangat untuk menjadi petani garam yang profesional bisa menurun,” tandasnya.

Sementara itu, Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh, Cut Yusminar mengatakan, digelarnya rakor tersebut sebagai upaya pihak Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman ingin berbagi pengalaman dalam hal memproduksi garam halal di Aceh. Terlebih setelah Aceh dijadikan salah satu sentra produksi garam nasional untuk pulau Sumatera.

Setelah pemerintah pusat menetapkan Aceh sebagai salah satu daeran sentra produksi garam nasional untuk pulau Sumatera pada tahun 2018 lalu, Gubernur Aceh, melalui surat keputusannya nomor 523/1439/2018, tanggal 27 Desember 2018, telah menetapkan delapan kawasan produksi komoditi unggul garam rakyat. “Daerah itu adalah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan.

Lahan garam yang akan digarap, sebut Cut Yusminar, untuk wilayah pantai timur-utara seluas 1.200 hektare dan untuk pantai barat-selatan seluas 100 hektare, dengan target produksi pada tahun pertama sekitar 12.000 ton dan tahun ketiga dan seterusnya bisa mencapai targetnya 65.000 ton.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved