Hajar Anak dengan Sapu, Ayah Ditangkap Polisi

Aksi kekerasan fisik yang dilakukan SIP (42) terhadap anak kandungnya, BHL (17) di Desa Alue Bata, Kecamatan Tadu Raya

Hajar Anak dengan Sapu, Ayah Ditangkap Polisi
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR
Kapolres Nagan Raya AKBP Giyarto 

SUKA MAKMUE - Aksi kekerasan fisik yang dilakukan SIP (42) terhadap anak kandungnya, BHL (17) di Desa Alue Bata, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, berujung ke ranah hukum. Istri pelaku yang tak terima anaknya BHL dianiaya hingga terluka melaporkan kasus itu ke Mapolres Nagan Raya dan pelaku akhirnya ditangkap polisi pada Senin (1/7) karena diduga melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap anak di bawah umur.

Kapolres Nagan Raya, AKBP Giyarto melalui Kasat Reskrim AKP Boby Putra Ramadhan Sebayang kepada Serambi, Selasa (2/7) mengatakan, penangkapan tersebut dilakukan berdasarkan pengaduan ibu korban berinisial YL (40) karena tidak terima anaknya dianiaya. Berdasarkan laporan tersebut, Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Nagan Raya setelah mendalami kasus tersebut langsung menangkap dan menahan tersangka yang saat ini mendekam di dalam sel tahanan mapolres setempat.

Kasus ayah harus mendekam di dalam sel tahanan itu, berawal pada Minggu (30/6) sekira pukul 17.30 WIB. Saat itu di teras rumah milik tersangka dan pelapor BHL sedang bermain dengan adik perempuannya PMJ. Kemudian datang sang ayah, SIP, dengan meminta handphone (hp) kepada putrinya, PMJ. Hp tersebut diberikan kepada ayahnya dan PMJ langsung masuk ke dalam rumah.

Setelah itu, tersangka menghampiri BHL dan sempat berbincang sebentar. Tak lama kemudian saat BHL hendak masuk ke dalam rumah, tersangka yang tak lain ayah kandung korban mengambil gagang sapu ijuk dan menghajar korban dari arah belakang.

Pukulan tersebut mendarat di kepala korban. Bagai belum puas, tersangka lagi-lagi memukul tangan korban sekuat tenaga sehinga gagang sapu tersebut patah.

Seusai memukul anaknya, tersangka kembali mendorong korban hingga terjatuh ke lantai di teras rumah dan kedua lututnya terluka.

Tak terima anaknya yang masih remaja menjadi sasaran amuk sang ayah, istri tersangka melaporkan kejadian itu ke polisi.

Kepada penyidik yang memeriksanya, tersangka SIP mengaku sengaja melakukan kekerasan fisik terhadap korban karena korban memakai tanpa izin mobil pikap Hiline miliknya. Pikap itu biasanya dia gunakan untuk mengangkut buah kelapa sawit. Murka karena si anak tak memberi tahu ayahnya saat membawa Hiline, tersangka pun memukul putranya berkali-kali. Sampai-sampai gagang sapu ijuk itu patah.

“Pelaku bersama barang bukti sudah kita amankan di Mapolres Nagan Raya untuk penyidikan lebih lanjut,” kata AKP Boby Putra Ramadhan Sebayang.

Untuk kasus seperti ini, tersangka dapat dibidik dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Undang-undang ini memberikan larangan bagi setiap orang untuk melakukan kekerasan, baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, maupun penelantaran rumah tangga terhadap orang di dalam lingkup rumah tangganya.

Selain itu, karena tersangka melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang masih di bawah umur, maka tersangka dapat juga dijerat dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Di dalam undang-undang ini diatur bahwa anak adalah seseorang yang belum berumur 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan ibunya. (c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved