Opini

Quo Vadis Pendidikan Kita

Secara garis besar, pendidikan didefinisikan sebagai upaya pendewasaan melalui proses transfer ilmu pengetahuan

Quo Vadis Pendidikan Kita
IST
Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh

Oleh Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh

Secara garis besar, pendidikan didefinisikan sebagai upaya pendewasaan melalui proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan transfer nilai (transfer of value) dari seorang guru (pendidik, mentor, pengajar) kepada peserta didik. Peralihan ilmu pengetahuan (kecakapan dan keterampilan) dan nilai ini dapat beraneka ragam tergantung pada substansi dan subjek didik.

Karena itu, sesungguhnya benar yang dikatakan bahwa dalam proses pendidikan yang diharapkan adalah “perubahan perilaku” peserta didik itu sendiri. Karena melalui perubahan diri, akan berpengaruh terhadap masyarakat. Artikel ini secara ringkas akan mengulas beberapa hal tentang kualitas pendidikan dan hubungannya dengan kemajuan.

Kualitas pembangunan
Kita harus mencermati lebih dekat lagi output ataupun outcome yang dilahirkan dari rahim pendidikan Aceh. Terdapat berbagai problematika tentang kualitas pendidikan dan hubungannya dengan pembangunan. Misalnya, dalam konteks perekonomian, ternyata kita masih tertinggal jauh engan daerah lain di Indonesia. Kita masih mengimpor berbagai produk barang (produk pakaian, sandang, pangan) dari daerah lain baik dalam ataupun luar negeri.

Sebut saja sikat gigi, odol, kompor, lampu teplok, dan lain lain sebagainya (domestik rumah tangga) sampai kepada obat nyamuk kita tidak punya pabrik sendiri. Belum lagi alat elektronika dan otomotif kita sangat tertinggal jauh, tapi mirisnya masyarakat kita menjadi konsumen paling banyak di saat ini.

Tak luput juga pangan atau produk makanan yang kita konsumsi sehari-hari bukan bikinan kita sendiri, perhatikan jenis makanan ringan dan jenis minuman kaleng yang terdapat di supermarket. Mie, minyak goreng, telur dan lain sebagainya masih berlabel made in Medan kalau bukan daerah Jawa dan propinsi lain di Indonesia ini.

Produk seperti itu saja kita masih pesan dan kita kurang menginisiasi untuk membuat sendiri, alih-alih karena tak ada sumber daya manusia yang dapat melakukan itu, ataupun karena berbagai faktor lainnya.

Meskipun ada minyak dan gas dalam perut bumi kita, emas batu bara dan berlian permata yang dikandungnya, kalau tak ada keahlian dan alat untuk mengambilnya, kita juga tak mampu menggalinya secara maksimal kecuali dengan bantuan dan kerja sama dengan orang asing.

Ternyata kita belum maksimal memberdayakan kemajemukan masyarakat kita selama ini, baik kemajemukan vertikal seperti perbedaan tingkat pendidikan, kekayaan, kedudukan sosial maupun kemajemukan horizontal, seperti perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat.

Seperti kejadian baru-baru ini tentang isu syiah dan wahabi. Dalam hal ini kita terlalu mengagungkan mazhab sendiri paling benar, dan menganggap tidak benar mazhab lain. Demikian juga halnya terkadang kita bersikap acuh tak acuh terhadap keberadaan etnik lain, seperti etnik Tiongkok. Kita menganggap etnik ini adalah orang lain (others) yang tidak sama dengan kita.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved