Salam

Hindarilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Seorang ayah di Kecamatan Tadu Raya, Kebupaten Nagan Raya, ditangkap polisi setelah melakukan kekerasan fisik

Hindarilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR
Kapolres Nagan Raya AKBP Giyarto 

Seorang ayah di Kecamatan Tadu Raya, Kebupaten Nagan Raya, ditangkap polisi setelah melakukan kekerasan fisik terhadap anak kandungnya. Ibu korban atau istri terduga pelaku dalam laporannya ke polisi mengatakan, sang ayah memukul si anak yang berusia remaja itu berkali-kali menggunakan gagang sapu di teras rumah mereka. “Bahkan, gagang sapu itu patah saking kuatnya pukulan,” kata sang ibu kepada polisi. Selain bengkak-bengkak akibat terhantam gagang sapu, si anak juga luka-luka karena terbanting ke lantai akibat dorongan ayahnya.

Kapolres Nagan Raya, AKBP Giyarto menjelaskan, si ayah yang melakukan kekerasan fisik terhadapnya itu sejak Senin (1/7) sudah ditahan di sel Mapolres setempat sebagai tersangka pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ia ditangkap berdasarkan laporan ibu korban yang juga istri tersangka.

Sebagai catatan saja, korban berhak melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara atau memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada pihak kepolisian baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara. Jadi, begitu bahasa hukum kita.

Polisi mengatakan, untuk kasus di Nagan Raya itu, tersangka dapat dibidik dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Undang-undang ini melarang setiap orang untuk melakukan kekerasan, baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, maupun penelantaran rumah tangga terhadap orang di dalam lingkup rumah tangganya.

Selain itu, karena tersangka melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang masih di bawah umur, maka tersangka dapat juga dijerat dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Di dalam undang-undang ini diatur bahwa anak adalah seseorang yang belum berumur 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan ibunya.

Alasan kemarahan sang ayah sebetulnya sangat sederhana. Yakni, si anak memakai mobil pikap milik ayahnya tanpa memberitahukan kepada sang ayah. Karenanya, dalam kasus ini kita harus melihat dua sisi. Pertama si anak salah memakai mobil tanpa minta izin ke orangtuanya. Apalagi, mobil itu kendaraan yang sehari-hari dipakai untuk cari nafkah.

Kedua, si ayah harusnya tak boleh serta merta marah hingga sesadis itu terhadap anaknya. Sebab, sesungguhnya mengajar atau mendidik anak dengan sopan santun jauh lebih efektif dibanding menggunakan cara-cara kekerasan yang selain dilarang undang-undang juga secara psikis bisa membuat anak dendam pada orangtuanya.

Jadi, apa yang terjadi di Nagan Raya itu harus kita lihat sebagai tragedi yang mestinya menjadi peringatan dan bahan renungan bagi kita semua agar lebih mawas diri dalam mendidik anak sehingga ke depan kasus serupa tak terulang. Kasus kekerasan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Sebab, keluarga merupakan tempat paling strategis dalam membentuk kepribadian, karakter, dan tingkah laku anak. Curahan kasih sayang orang tua terhadap anak sangat berpengaruh pada pola tingkah laku anak. Jangan sampai mendidik anak dengan cara kekerasan. Karena itu, membentak atau memukul sebaiknya dihindari dalam menghukum anak bila melakukan pelanggaran di rumah.

Para ahli psikologi mengatakan, anak yang dididik di lingkungan keluarga yang keras tentu hasilnya akan berbeda dengan anak di keluarga yang mengedepankan sikap lemah lembut dalam pola pendidikannya. Di sinilah nilai-nilai agama sangat berperan sentral. Karena agama mana pun tidak pernah mengajarkan kekerasan. Karena itu, para orang tua harus membekali diri dengan pengetahuan agama yang cukup agar bisa mendidik anak dengan baik.

Dalam kasus ini, kita melihat bukan hanya ayah yang haus menjalni hukuman, tapi si anak juga harus diingatkan akan menyadari betul bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Selain harus secara sadar meminta maaf kepada orang tuanya, si anak juga harus berjanji secara sungguh-sungguh di dalam hati untuk tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahn semacam itu kelak.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved