Opini

Parasit Demokrasi

Saya pribadi selalu menyimpan kagum sekaligus malu kepada Irmansyah, salah seorang wartawan

Parasit Demokrasi
IST
Teuku Kemal Fasya, Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh

Oleh Teuku Kemal Fasya, Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh

Saya pribadi selalu menyimpan kagum sekaligus malu kepada Irmansyah, salah seorang wartawan di Lhokseumawe yang telah cukup matang di dunia jurnalistik dan media, tapi kesehariannya sangat sederhana.

Salah satu yang masih saya ingat, ia mewawancarai saya terkait dengan tragedi Atu Lintang, Aceh Tengah, menjelang pemilu 2009. Ternyata komentar itu membuat pedis “para pihak” sehingga bertahun-tahun kemudian ia menyatakan bahwa pernah saya masuk target culik karena pemberitaan itu.

Saat ini Irmansyah menjadi pemimpin redaksi media daring yang cukup populer. Pada awal Ramadhan yang baru lalu, saya meminta Ayi Jufridar--wartawan senior dan juga pengelola portai berita di Universitas Malikussaleh--untuk menitipkan “uang meugang” kepadanya. Hal ini harus saya lakukan, ketika “wartawan bodrex” lebih banyak berkerumun pada momen-momen seperti itu, sementara wartawan rill seperti Irman memilih bersunyi diri, meskipun juga memerlukan.

Namun Irmansyah dengan halus menolak. Uang itu kembali saya lipatgandakan pada momen lebaran. Saya meminta Ayi Jufridar entah bagaimana caranya agar uang itu diterima. Kalau tidak bisa secara halus, harus dipaksa. Sama sekali uang itu tak ada hubungan dengan pekerjaan. Itu hanya tanda ingat dari seorang sahabat. Hal itu perlu saya lakukan karena selama ini Irmansyah menderita sakit syaraf sehingga mengurangi produktivitas kerjanya. Lagi-lagi ia menolak!

Idealisme demokrasi
Fenomena seperti itu semakin sulit ditemukan di era disrupsi dan resesi seperti saat ini, ketika seluruh pekerjaan kerap bisa dikuantifikasi dengan uang. Irman sadar bahwa sebagai wartawan ia harus menolak segala hal yang berhubungan dengan amplop.

Ia seperti kamus hidup yang menjadi tafsir kontesktual UU Pokok Pers (UU No. 40 tahun 1999). Semakin sedikit kita melihat contoh idealisme wartawan seperti ini, tetap memegang teguh profesi, menjalankan etika jurnalistik--seperti tersebut dalam pasal 1 dan 6--untuk bersikap independen, menghasilkan berita akurat, tidak beritikat buruk, serta tidak menyalahgunakan profesi dengan menerima suap.

Entahlah, apakah menerima uang meugang tanpa pernah meminta juga bisa dikategorikan sebagai suap. Namun, ia terhindar dari citra wartawan amplop. Banyak wartawan, amplopnya diambil, berita tak pernah dituliskan. Dalam hal ini sosok seperti Irman disebut sebagai the guardian of democracy, pasukan pelindung demokrasi.

Demokrasi minus pembela
Saat ini kita melihat meskipun demokrasi semakin terangkat sebagai nilai bersama dalam tatakelola kehidupan bernegara dan urusan publik, yang banyak bukan para pembelanya. Yang muncul malah benalu demokrasi (parasite of democracy) yang menggerogoti kesehatan demokrasi.

Dunia kampus juga begitu. Semakin sedikit ditemukan dosen yang tetap teguh menjalankan fungsi utamanya, di samping mengajar dan meneliti, juga menyuarakan kebenaran: membela kepentingan publik yang tertindas oleh struktur kuasa negara dan arogansi mayoritas (agama, etnis, mazhab, identitas budaya). Membela kelompok minoritas yang sedang tertindas dan didiskriminasi tentu bukan posisi yang nyaman. Tidak banyak dosen yang mau tetap bersuara atas nama kebenaran dan kemanusiaan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved