Opini

Mengisi Waktu dengan Kebaikan

Ada sebuah kata hikmah populer menyebutkan bahwa “waktu itu ibarat pedang, apabila engkau tidak memotongnya

Mengisi Waktu dengan Kebaikan
IST
Munawir Umar, Mahasiswa Program Magister PIKTI UIN Syarif Hidayatullah

Oleh Munawir Umar, Mahasiswa Program Magister PIKTI UIN Syarif Hidayatullah

Ada sebuah kata hikmah populer menyebutkan bahwa “waktu itu ibarat pedang, apabila engkau tidak memotongnya maka ia akan memotongmu”, sedang orang Barat sering menyebutnya dengan `The times is money’ waktu adalah uang. Ini mengindikasikan betapa besar peran waktu dalam perputaran roda kehidupan.

Di samping itu pula, dalam Islam menjaga waktu adalah bagian dari anjuran untuk terlaksananya semua tuntutan kehidupan yang seringkali diabaikan oleh manusia sebagai makhluk Tuhan, tetapi itu pula yang sering diabaikan. Dalam sebuah hadits Rasul Saw menyebutkan,”Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Hal tersebut tidak saja menyangkut persoalan material, tetapi juga menyangkut persoalan moral yang harus dipertanggungjawabkan di hari kemudian.

Kemajuan sebuah peradaban manusia sangatlah tergantung pada bagaimana ia mengolala diri dengan penuh integritas serta mengedepankan segala kapasitas dan kapabalitas. Sebuah kapasitas yang memadai, namun tidak diikuti dengan integritas yang tinggi maka itu ibarat menaiki sebuah tanjakan besi yang di bawahnya penuh dengan bara api. Dan yakinlah penyeberangan tersebut pun tidak akan terjadi atau paling tidak akan membutuhkan waktu untuk menuju tujuan yang diinginkan tadi.

Malik bin Nabi pernah berkata, bahwa waktu itu ibarat sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintas pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokkan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering kali tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu--selain Tuhan--tidak akan mampu melepaskan diri dari belenggunya.

Waktu dalam Alquran
Maka tidak ayal jika Allah bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat Alquran dengan redaksi yang berbeda, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati dalam kebenaran dan nasihat menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-`Ashr: 1-3). Menurut pakar tafsir Alquran ternama Indonesia M. Quraish Shihab, bahwa kata `ashr dalam ayat tersebut bisa diartikan sebagai `waktu menjelang terbenam matahari’, tetapi juga bisa diartikan sebagai `masa’ secara mutlak. Makna terakhir ini lahir berdasarkan pada asumsi bahwa `ashr merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia.

Kata ‘ashr sendiri pula menunjuki kepada makna ‘perasaan’, seakan-akan masa harus digunakan oleh manusia untuk memeras keringat dan pikirannya dengan penuh perasaan sepanjang masa.

M. Quraish Shihab melanjutkan dengan mengutip pendapat Muhammad Abduh, bahwa Allah memulai surat tersebut dengan dengan bersumpah untuk membantah anggapan sebagian orang yang mempersalahkan waktu dalam kegagalan mereka. Tidak ada sesuatu yang dinamai masa sial atau masa mujur, karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan dari usaha seseorang. Dan manusia sendirilah yang berperan di dalam baik dan buruknya akhir sebuah pekerjaan.

Mengapa demikian? Karena masa atau waktu selalu bersifat netral sekalipun banyak manusia yang menyalahkan bahkan mengkambinghitamkan. Maka jika saja manusia mengisinya dengan aktivitas bermanfaat maka tentu ia akan memperoleh sebuah kemuliaan dari sisi Tuhan. Tetapi ia akan memperoleh kerugian bahkan penyesalan yang berkepanjangan karena tidak mengisi waktu dengan segala sesuatu yang membawa kepada kemaslahatan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved