Citizen Reporter

Mount Fuji, Magnet Budaya di Jepang

KAMIS lalu saya dan Jasmine Reis serta semua wisatawan yang telah menghubungi local guide di Travel HIS Tokyo

Mount Fuji, Magnet Budaya di Jepang
IST
Ir. CUT PUTRI ALYANUR, pegawai negeri sipil pada Kantor Perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta, melaporkan dari Mount Fuji, Jepang

OLEH Ir. CUT PUTRI ALYANUR, pegawai negeri sipil pada Kantor Perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta, melaporkan dari Mount Fuji, Jepang

KAMIS lalu saya dan Jasmine Reis serta semua wisatawan yang telah menghubungi local guide di Travel HIS Tokyo, bersiap-siap mengikuti perjalanan wisata menuju Mount Fuji, Jepang. Jarum jam menunjukkan pukul 08.10 waktu Tokyo, seorang perempuan bernama Rhene, memperkenalkan diri kepada kami yang berada di dalam bus travel menuju Mount Fuji. Dialah pemandu wisata kami. Kami berdua saja dari Indonesia, sedangkan 38 wisatawan lainnya berasal dari Hong Kong, India, Bangladesh, Australia, dan Jepang. Rhene dengan ramah dan santun menyampaikan beberapa tata tertib perjalanan wisata dari HIS Travel Tokyo, tempatnya bertugas dengan memberikan secarik leaflet atau kertas informasi yang berisi peraturan kepada kami.

Salah satu instruksi yang harus diikuti oleh wisatawan yang menumpang bus HIS Travel adalah sesuai hukum yang berlaku di Jepang, para penumpang wajib memakai sabuk pengaman selama perjalanan wisata.

Kebetulan kami berkunjung ke Mount Fuji pada akhir Juni, saat cuacanya cerah dan kami dapat mencapai stasiun ke-5 Mount Fuji yang indah tanpa kendala cuaca.

Mount Fuji atau Fujisan adalah gunung dengan puncak tertinggi di Jepang, berada di perbatasan Prefektur Shizuoka (utara) dan Prefektur Yamanashi (barat) Tokyo, serta terhampar di antara tiga kota, yaitu Getemba (di timur), Kota Fuji-Yoshida (utara), dan Kota Fuji Nomiya (barat

daya), dan ada lima danau yang turut menyempurnakan kemolekan Fujisan, yaitu Danau Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu, dan Shoji.

Rakyat Jepang meyakini Mount Fuji sebagai tempat ritual yang sakral. Dengan puncaknya berselimut salju, setinggi 3.776 meter, menjadikanya magnet budaya, surga wisata dunia yang dapat dikunjungi dari seluruh daerah di Jepang. Hanya 100 km di barat daya Tokyo. Rhene, pemandu wisata kami, menceritakan bahwa tahun 2013 pada sesi ke-37, Unesco menobatkan Mount Fuji sebagai “Warisan Budaya Dunia” untuk Asia dengan nomor registrasi 1.418.

Penghargaan ini diberikan Unesco karena Mount Fuji telah memberikan pengaruh terhadap seni budaya Jepang. Harumnya nama Mount Fuji hingga ke relung jagat raya sebagai simbol budaya Jepang dan menjadi pujaan para pencari inspirasi seni, serta kedamaian hati para penjelajah bumi, dalam petualangan mereka di musim semi di Negeri Matahari tersebut.

Sesuai panduan kunjungan wisata, kami dipandu menuju kebun buah ceri (cherry) yang sedang dipanen, mengunjungi Phanoramic Kanchi-Kachi Rapeway, wisata ke telaga danau Kawaguchi yang elok dengan Taman Oshi, lalu menuju stasiun ke-5 sebagai tempat pemberhentian terakhir semua wisatawan yang mengendarai bus atau pun mobil.

“Guys,” kata pemandu kami, “sekarang kita sudah tiba di kebun buah. Ini Pak Osaki, petani yang memiliki kebun buah ceri yang nanti menjamu kita untuk makan buah sepuasnya, asal... jangan dibawa pulang ya,” candanya. Kami pun memetik buah ceri dan melahapnya sampai puas.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved