Breaking News:

Citizen Reporter

Mount Fuji, Magnet Budaya di Jepang

KAMIS lalu saya dan Jasmine Reis serta semua wisatawan yang telah menghubungi local guide di Travel HIS Tokyo

Editor: bakri
Mount Fuji, Magnet Budaya di Jepang
IST
Ir. CUT PUTRI ALYANUR, pegawai negeri sipil pada Kantor Perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta, melaporkan dari Mount Fuji, Jepang

Saya langsung melahapnya, hap-hap-hap. Mata saya terpejam, buah merah itu ternyata masam sekali. Warnanya yang merah, mengingatkan saya pada buah merah kecil tomat/ranti di pegunungan Tangse, Pidie, Aceh. Rupanya, pemandu kami melihat bahasa tubuh saya yang sedang makan buah sambil memejamkan mata. “Mom, buah yang Anda makan itu belum ranum, silakan ambil yang lain ya,” katanya. “Oh Pantas,” kata saya sambil tersipu malu, lalu dengan cekatan memetik buah ceri yang sudah ranum. Rasa masam ceri pun teratasi.

Petani di Mount Fuji selalu mengikuti arahan dan petunjuk penyuluh pertanian dari pemerintah untuk menyesuaikan dengan jadwal dan musim tanam, iklim dan cuaca, keadaan suhu, cahaya matahari, unsur hara, air, dan hormon tumbuhnya.

Sebagai catatan, tanaman buah di Mount Fuji masing-masing punya musim. Misalnya, buah stroberi musimnya di bulan Mei sampai Desember. Khusus ceri muncul di bulan Juni, sedangkan buah peach di bulan Juli. Adapun anggur yang lezat nongol di bulan Agustus sampai November.

Puas di kebun ceri, perjalanan kami lanjutkan menuju puncak Mount Fuji yang seluruhnya diselimuti lelehan salju beku berwarna putih. Kami berkesempatan menyaksikan panorama puncak Mount Fuji dalam 360 derajat di ketinggian 1.075 meter. “Masya Allah, betapa agung Engkau ya Allah, indah sekali ciptaan-Mu itu.” Lalu kami menyusuri puncaknya dalam Cable Car Kachi-Kachi sambil menyaksikan lambaian dedaunan di Area Taman Nasional Jepang. Dedaunan rimbun itu seolah menyapa kami dengan ramahnya.

Ditarik oleh dua kawat baja besar, Cable Car Kachi-Kachi membawa kami ke puncak Mount Fuji dalam waktu hanya tiga menit. Luar biasa, takjub kami karena jarak 460 meter serasa dekat sekali saat dihubungkan oleh cable car dari Stasiun Kohan ke Stasiun Fujimada.

Setibanya di puncak Mount Fuji, tampak banyak orang membunyikan lonceng Tenjo atau Bell of Tenjo. Lonceng Tenjo berbentuk hati dan Tenjo adalah spot tempat berfoto dan bersumpah setia dengan pasangan tanpa ingkar, di hamparan langit Mount Fuji yang penuh misteri.

Niat atau keinginan seseorang dalam ritual budaya Tenjo ini diyakini dapat terpenuhi, karena sang Dewa–dalam kepercayaan masyarakat Jepang–hadir dengan ruh dan napasnya untuk merespons permintaan mereka yang bermohon dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, ada Kuil Usagi atau Usagi Shire, yaitu kuil kecil yang didedikasikan untuk kelinci yang konon berasal dari cerita Jepang kuno berjudul Gunung Kachi-Kachi.

Selanjutnya ada pula ritual budaya melempar kawarake (kawarake throwing), yaitu ritual mengusir roh jahat untuk menjauh, seraya mengharap keberuntungan. Jika telah melempar kawarake, giliran wisatawan mencicipi kue pangsit tanuki, katanya sih, paling lezat sedunia, karena pangsit tanuki ini berasal dari rakun panggang yang dibakar di atas arang yang terus membara.

Dan... lelah terhapus sudah, perjalanan kami berlanjut ke tepi Danau Kawaguchi dan Taman Oshi yang dipenuhi aneka bunga jerman calanus dan lupine. Bila ingin menikmati sakura datanglah ke Jepang pada bulan April, lalu beranjak ke bulan Mei ada shibazakura, rapeeseed, dan tulip. Harum dan wangi lavender merebak di akhir Juni dan Juli. Giliran selanjutnya adalah harum begonia, cosmos, hingga bunga kocha yang bermekaran di bulan Oktober. Bulan November mulailah satu per satu dedaunan berguguran ke bumi.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved