Dinas ESDM Aceh Perbaiki Kerusakan Biogas Bantuan Pemerintah di Meureudu

Kondisi bak penampung kotoran sapi yang menjadi sumber biogas, tidak boleh kering dan harus selalu dalam kondisi basah dan kotoran sapi yang ada harus

Dinas ESDM Aceh Perbaiki Kerusakan Biogas Bantuan Pemerintah di Meureudu
Serambinews.com
Dua warga Gampong Rhieng Blang, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, memperhatikan instalasi biogas yang tidak berfungsi sejak tujuh bulan terakhir, Kamis (4/7/2019). 

Laporan Herianto I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Mahdinur mengatakan biogas bantuan pemerintah di Gampong Rhieng Blang Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, milik Ibu Mardaini Hasan yang sebelumnya tidak berfungsi kini sudah berfungsi kembali.

“Kompor biogas milik Ibu Mardaini Hasan itu tidak berfungsi, karena saluran biogas dari bak tanki penyimpanan atau penghasil biogas kesaluran kompor gasnya, ada yang tersumbat. Setelah saluran biogas yang tersumbat diperbaiki, api biogas kembali ke luar dan menyala dari kompor gas berwarna biru,” kata Mahdinur kepada Serambi, Sabtu (6/7/2019) di ruang kerjanya.

Mahdinur menjelaskan saluran biogas dari bak tanki penyimpanan biogas yang terdapat di belakang rumah ke saluran kompor gasnya tersumbat karena penerima manfaat biogas, kurang menjaga kebersihan dari bak tanki penampung kotoran sapi dan saluran biogas.

Baca: Serukan Serangan Mematikan ke Israel, Imam Teheran: Warna Air Teluk Persia Akan Menjadi Merah Darah!

Baca: Sumur Minyak Tradisional di Aceh Timur Kembali Terbakar, Dua Pekerja Luka Ringan

Baca: Dari Kemiringan Ekstrem hingga Sejumlah Mitos, Inilah 8 Fakta Gunung Piramid Tempat Hilangnya Thoriq

Kondisi bak penampung kotoran sapi yang menjadi sumber biogas, tidak boleh kering dan harus selalu dalam kondisi basah dan kotoran sapi yang ada harus dalam posisi cairan kental, agar bisa mengeluarkan biogas yang banyak.

Kalau bak penampung kotoran sapinya tidak diperhatikan dalam mengaduk, kotoran sapi yang masuk ke dalam bak tanki penyimpan bisa kering dan saluran biogas yang menuju ke kompos gas bisa tersumbat.

Kalau sudah tersumbat, dapat dipastikan kompor gasnya tidak mengeluarkan api warna biru.
Untuk memberikan jaminan agar biogas itu bisa terus berfungsi, salah satu persyaratan penerima bantuan alat biogas kepada masyarakat, adalah masyarakat yang punya ternak atau pelihara sapi 2-3 ekor.

Kondisinya dekat dengan rumah, sehingga kotoran sapi itu bisa setiap hari dimasukkan ke dalam bak atau tanki penampung kotoran sapi.

Penerima manfaat bantuan biogas dari pemerintah, kata Mahdinur, harus rajin dan sering mengontrol bak penampung kotoran sapi.

Tidak boleh kering, kecuali sedang dilakukan pembersihan. Kotoran sapi yang energi biogasnya sudah habis, segera dikeluarkan dari bak tanki pengumpul kotoran sapi.

Kemudian, mengenai bak penampung kotoran sapi mengeluarkan bau tak sedap, di atas bak penampung kotoran sapi harus ditutup rapat dan rapi.

Karena kalau baknya tidak ditutup rapat dan rapi, sumber biogasnya akan menguap keluar, mencemari lingkungan dan biogas yang akan ke luar dari kompor gas jadi lemah.

Program penyaluran bantuan biogas dari pemerintah ini, kata Mahdinur, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pemerintah yang disalurkan Menkeu kepada Kementerian ESDM.

Pelaksanaan bantuannya kepada masyarakat, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 tahun 2017 tentang Petunjuk Operasional Pelaksanaan dana DAK Fisik Penugasan Bidang Energi Sekala Kecil.(*)

Penulis: Herianto
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved