Klaim AS Tak Berani Menyerang, Menteri Intelijen Iran: Mereka Takut dengan Kekuatan Militer Kami

Ketegangan yang terjadi antara Iran-Amerika membuat orang-orang di pemerintahan masing-masing saling lempar ancaman.

Klaim AS Tak Berani Menyerang, Menteri Intelijen Iran: Mereka Takut dengan Kekuatan Militer Kami
IRANIAN DEFENCE MINISTRY/AFP
Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Iran pada 22 Juli 2017 menunjukkan deretan rudal pertahanan udara Sayyad-3 milik Iran yang dipamerkan saat peresmian jalur produksinya di lokasi yang dirahasiakan. (IRANIAN DEFENCE MINISTRY/AFP) 

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan yang terjadi antara Iran-Amerika membuat orang-orang di pemerintahan masing-masing saling lempar ancaman.

Baru-baru ini Menteri Intelijen Iran Mahmoud Alavi melontarkan ancaman keras yang membuat Barat berang.

Mengutip Kompas.com, Jumat (5/7/2019) Alavi sesumbar Teheran mau mengadakan perundingan lagi dengan Washington asalkan Paman Sam mencabut sanksi bagi negaranya.

Selebihnya nanti akan diputuskan oleh pemimpin tinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

"Mengadakan dialog dengan AS hanya bisa dipertimbangkan oleh Iran jika (Presiden Donald Trump) mencabut sanksi dan pemimpin tertinggi kami memberikan izin untuk pembicaraan semacam itu," ujar Alavi, Rabu (3/7/2019) malam.

Baca: Formak Ajak Masyarakat Awasi Pembangunan Breakwater Pantai Labuhanhaji

Baca: Makin Panas, Marinir Inggris Serbu Kapal Tanker Milik Iran, Amerika Kegirangan

Baca: Iran Ingin Kerja Sama dengan Aceh

Alavi juga menyebut Amerika tak akan berani menyerang Iran.

"Mereka (orang-orang Amerika) itu takut dengan kekuatan militer Iran. Itulah alasan sebenarnya di balik keputusan mereka membatalkan keputusan untuk menyerang Iran," ujarnya.

Hal ini dilontarkan oleh Alavi setelah presiden Amerika Donald Trump mengumumkan bakal menyerang Iran usai drone USAF ditembak jatuh.

Namun serangan itu dibatalkan gegara Trump menilai akan jatuh korban sebanyak 150 orang yang menurutnya tak sebanding dengan keberhasilan yang akan dicapai.

Psywar antara Amerika dan Iran terjadi usai Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2015 silam.

Halaman
12
Editor: Amirullah
Sumber: GridHot.id
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved