Salam

KPK Mendatang Harus Lebih Kuat

Kursi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023 diincar oleh 348 orang yang bukan

KPK Mendatang Harus Lebih Kuat
KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN) 

Kursi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023 diincar oleh 348 orang yang bukan hanya dari luar KPK. Setidaknya ada tiga pemimpin KPK yang saat ini aktif bertugas kembali mencoba peruntungan, yaitu Alexander Marwata, Laode M Syarif, dan Basaria Pandjaitan. Menyusul kemudian sejumlah pegawai struktural KPK seperti Deputi Pencegahan KPK Pahala Nainggolan, serta Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Giri Suprapdiono. Mereka akan disaring Pansel Capim KPK secara administratif. Hasilnya akan diumumkan pada 11 Juli 2019.

Ketua Pansel Yenti Ganarsih sempat menyampaikan agar masyarakat turut aktif memberikan masukan pada pansel mengenai rekam jejak para capim itu setelah diumumkan pada 11 Juli 2019. Sebagai pendukung reformasi di negeri ini, ajakan itu pastilah kita sambut dengan memberi kepada Pansel Capim KPK apapun informasi yang kita tahu tentang para calon pimpinan lembaga pemberantas korupsi itu.

KPK adalah anak kandung reformasi dan ia dipersiapkan dan dibentuk untuk menjalankan amanat suci reformasi. Yakni, membangun sistem pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN. Ketika KPK telah dijadikan sarana untuk meraih kepentingan pribadi atau kelompok atau tujuan politik, seketika itu pula roh reformasi suci terkoyak dan tentu membawa dampak buruk terhadap lembaga KPK kini dan di masa depan.

Seyogianyalah kerja Pansel capim KPK ini harus didukung semua pihak untuk memperoleh calon pimpinan KPK tepercaya dan memiliki integritas serta akuntabilitas yang memenuhi harapan semua pihak. Tidak mudah, tetapi dengan kesungguhan partisipasi masyarakat hal itu pasti ada.

Tugas dan tanggung jawab pansel tidaklah ringan. Pansel berkewajiban memilih calon pimpinan KPK yang berintegritas dan memiliki komitmen pada penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Publik berharap pimpinan KPK diisi orang yang relatif sempurna, bahkan nyaris setengah dewa.

Harapan publik itu mungkin berlebihan dan mustahil tercapai. Namun, kita perlu memberinya garis tebal mengingat persoalan KPK di masa depan ialah terus memperbaiki kepercayaan masyarakat, bukan sekadar memberantas dan membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya.

Lima tahun lalu, kepercayaan masyarakat terhadap KPK sempat tergerus setelah dua pemimpinnya terlibat kasus hukum. Kepercayaan itu terus melorot setelah terungkap fakta di persidangan praperadilan bahwa penetapan tersangka suka-suka pimpinan, bukan berdasarkan alat bukti yang kuat.

Makanya, mencari dan memilih calon pimpinan KPK setengah dewa itu menjadi tugas pansel. Karena itu, Presiden Jokowi sejak awal sangat hati-hati memilih anggota pansel. Kita sadar, sangat sadar, lebih mudah mencari jarum di tumpukan jerami daripada mencari calon pimpinan KPK yang relatif sempurna dan tanpa cacat. Pimpinan KPK bisa saja disusupi mereka yang beridentitas pakar, akademisi, aktivis, penegak hukum, hingga anggota kabinet yang sebenarnya berniat melemahkan KPK.

Pimpinan KPK itu ibarat sapu bersih. Hanya sapu bersih itulah yang bisa dipakai untuk menyapu lantai kotor. Hanya pimpinan KPK yang bersih itu pula yang bisa diharapkan untuk menyapu korupsi dari negeri ini. Tugas pansel ialah mencari dan memilih sapu bersih. Karena itu, personel pansel pun sudah diseleksi secara ketat yang integritasnya tidak diragukan.

Tidak ada cara lain, pemilihan capim KPK ini harus dimulai dengan seleksi superketat. Publik pasti akan melihat rekam jejak capim melalui berbagai cara dan berbagai sisi. Sedangkan pansel mungkin akan melihatnya melalui saringan KPK serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Itulah cara tepat untuk memastikan calon pemimpin KPK dapat memenuhi harapan semua pihak. Sebagai pengingat, pimpinan KPK yang terjaring sangat bergantung pada kualitas dan komitmen para penjaring alias pansel pimpinan KPK.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved