Citizen Reporter

Membahas Penyelesaian Konflik Sahara di PBB

TANGGAL 4 Maret 2019 saya menerima e-mail dari Marc Finaud, Senior Advisor Geneva Centre for Security Policy

Membahas Penyelesaian Konflik Sahara di PBB
MAWARDI ISMAIL, S.H., M.Hum., mantan dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari New York, Amerika Serikat

OLEH MAWARDI ISMAIL, S.H., M.Hum., mantan dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari New York, Amerika Serikat

TANGGAL 4 Maret 2019 saya menerima e-mail dari Marc Finaud, Senior Advisor Geneva Centre for Security Policy (GCSP) yang bekerja sebagai Konsultan untuk The Permanent Mission of the Kingdom of Morocco to the United Nations (UN) . “We are pleased to invite you to a seminar on Territorial Autonomy: An Effective Means for the Political Settlement of Conflicts at the UN Headquarters in New York on 1 July 2019.” Diundang berpartisipasi dalam seminar internasional di Markas atau Kantor Pusat PBB, tentulah menjadi kejutan bagi saya yang sudah lama tidak terlibat dalam kegiatan seminar internasional, terutama setelah pensiun dari dosen pada Maret 2016.

Dalam seminar tersebut yang diundang sebagai pembicara adalah Dr Thomas Benedikter, President European Academy of Bolsano/Bozen (EURAC) Western Europe, Dr Miguel Gonzales Perez, Assistant Professor University of York (Canada) Latin America, Dr Anthony Regan, Professor Australia National University (ANU), Canberra, Dr Kristin M Bakke, Professor in Political Science and International Relations, University College London (UCL), dan saya sendiri dari Indonesia.

Dalam seminar di New York ini saya diminta menyiapkan dan mempresentasikan paper tentang pengalaman Indonesia dalam penyelesaian konflik dengan otonomi daerah–tepatnya otonomi khusus-- sebagai solusinya. Untuk itu, saya siapkan paper dengan topik “Special Autonomy as A Tool for Conflict Settlement, A Comparison between Aceh, Indonesia and the Sahara Region, Morocco”.

Adanya undangan untuk seminar tentang penyelesaian konflik ini, membuktikan bahwa “penyelesaian konflik Aceh yang melahirkan MoU Helsinki dan otonomi khusus untuk Aceh mendapat perhatian dari masyarakat internasional” bukanlah sekadar ungkapan kebanggaan yang semu. Ternyata, Kerajaan Marokko yang sejak tahun 1975 menghadapi pemberontakan dari Polisario yang memproklamirkan kemerdekaan Sahara Barat Marokko sebagai “Sahrawi Arab Democratic Republic (SADR)”, juga menjadikan pengalaman Indonesia dalam penyelesaian konflik Aceh sebagai salah satu bahan kajian dan perbandingan untuk penyelesaian pemberontakan Polisario tersebut.

Tawaran yang sangat menantang (menjadi pembicara pada seminar internasional) ini tentu saja segera saya respons dengan positif. Pengurusan visa Amerika adalah hal pertama yang menjadi prioritas, karena ternyata visa saya ke Amerika telah berakhir pada tahun 2016. Pengurusan visa yang harus melalui wawancara di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, sering membuat kita “deg-degan”, apakah akan disetujui atau ditolak. Alhamdulillah, tanpa hambatan berarti, setelah wawancara singkat tanggal 8 Mei 2019, saya menerima hasilnya, “Congratulations, your US visa has been approved.”

Informasi ini segera saya beri tahu kepada Finaud, lalu hari berikutnya saya menerima e-mail dari Ms Majda Moutchou, Counselor in charge at the Permanent Mission of the Kingdom of Morocco to the United Nations yang bertanggung jawab mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan perjalanan ke New York. Hal terakhir ini rupanya baru bisa dilakukan setelah ada kepastian tentang visa. Karena dibolehkan memilih, setelah melihat berbagai alternatif, saya memilih “Qatar Airways” untuk penerbangan Jakarta-New York dengan transit tiga jam di Doha.

Tanggal 29 Juni 2019, dengan GA 147 pukul 15.40 WIB, saya berangkat ke Jakarta dan sekitar pukul 21.30 WIB saya segera ke counter Qatar Airways untuk check in. Semuanya berjalan mulus, karena untuk check in dan urusan imigrasi tersedia jalur khusus bagi pemegang tiket business class. Pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional Hamad Doha Qatar.

Untuk penumpang business class sudah disediakan fasilitas QSuite, yang sangat menjamin privasi penumpang. Dengan fasilitas QSuite Business Class ini, penumpang berada dalam satu ruangan tersendiri yang dapat berfungsi sebagai kamar tidur dan kamar kerja sekaligus. Dengan berbagai fasilitas tersebut, penumpang dapat memilih apakah mau bekerja, mau tidur, atau pun mau santai sambil menikmati layanan entertainment yang aneka ragam.

Dengan fasilitas yang disediakan ini, Qatar Air benar-benar membuat penerbangan Doha-New York yang hampir 14 jam itu sangat menyenangkan dan penumpang turun dari pesawat di Bandara JFK New York dalam keadaan segar dan ceria. Dalam penerbangan saya menerima e-mail dari Marc Finaud tentang agenda acara, baik yang formal maupun yang tidak formal.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved