Pembunuhan Mantan Kadis Direncanakan

Pembunuhan terhadap mantan kepala dinas perhubungan Galus, Suhathir SSos (68), yang terjadi pada 23 Juni 2019

Pembunuhan Mantan Kadis Direncanakan
SERAMBI/RASIDAN
POLISI menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan mantan kepala Dinas Perhubungan Gayo Lues yang terjadi di depan Masjid Asal Penampaan, Blangkejeren, Jumat (5/7). 

* Pelaku Sempat Diduga Alami Gangguan Jiwa

BLANGKEJEREN - Pembunuhan terhadap mantan kepala dinas perhubungan Galus, Suhathir SSos (68), yang terjadi pada 23 Juni 2019 lalu di depan Masjid Asal Penampaan, Kecamatan Blangkejeren, ternyata sudah direncanakan. Awalnya, pembunuhan itu diduga dilakukan secara spontan, apalagi pelakunya Selamatsyah Bin Yunus (30), disebut-sebut mengalami gangguan jiwa.

Hal itu terungkap dalam rekonstruksi kasus yang dilakukan oleh penyidik Polres Galus di lokasi kejadian, Jumat (5/7). Adegan diperankan langsung oleh tersangka, sementara korban diperankan oleh anggota Polisi, Bripda Januar, dan dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polres Galus Iptu Abdul Hamid. Selain itu juga hadir Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari kejaksaan sebanyak 3 orang, perwakilan dari Pengadilan Negeri Blangkejeren 2 orang, dan salah satu keluarga korban.

Dalam adegan itulah diketahui bahwa tersangka memang telah merencanakan pembunuhan sejak awal, untuk melampiaskan sakit hatinya kepada korban. Sebelum melakukan aksinya, Selamatsyah sempat berzikir di rumahnya agar diberikan kekuatan untuk menghabisi korban. Seusai berzikir, tersangka berangkat ke masjid sambil menyelipkan sebuah pisau dapur ke pinggangnya.

“Selamatsyah sudah merencanakan kasus pembunuhan itu dari rumahnya,” kata Kapolres Galus AKBP Eka Surahman melalui Kasat Reskrim Iptu Abdul Hamid yang didampingi tim penyidik lainnya, kepada Serambi, kemarin.

Terkait isu yang berkembang sebelumnya bahwa tersangka diduga mengalami ganguan jiwa dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa, Abdul Hamid mengatakan jika tim penyidik tidak menemukan bukti-bukti kuat terkait hal itu. “Penyidik tidak menemukan bukti atau surat keterangan kalau tersangka pernah dirawat di rumah sakit jiwa,” ujarnya.

Upaya mencari bukti-bukti tersebut kepada pihak keluarga juga tidak berhasili, karena semua keluarga tersangkan telah pindah dari Desa Penampaan.

Pihak keluarga korban, Abdul Karim, yang ikut menyaksikan rekonstruksi kasus, juga tidak menduga bahwa kasus pembunuhan itu merupakan pembunuhan yang telah direncanakan. Apalagi menurutnya korban tidak pernah cerita memiliki masalah dengan orang lain. «Pihak keluarga meminta, agar pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya,» pinta Abdul Karim.

Kasus pembunuhan itu seperti diberitakan media ini sebelumnya, terjadi seusai shalat Ashar, Minggu 23 Juni 2019. Saat itu, korban dan pelaku sama-sama menunaikan shalat berjamaah bersama warga lainnya. Seusai shalat, pelaku ke luar lebih dulu dan diikuti korban serta jamaah lainnya.

Saat itulah pelaku menikam korban,sebanyak 8 kali, sehingga mengalami pendarahan hebat. Luka tusukan itu di antaranya mengenai bagian ulu hati satu sekali, di bagian kepala sebelah kanan dan kiri masing-masing satu kali. Selain itu di bagian punggung satu kali, dan di bagian dada sebelah kiri satu kali, serta tiga tusukan di tangan kiri korban.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved