Putra Aceh Jadi Delegasi Indonesia pada Konferensi Gandhi's 150 Birthday Anniversary di Bangkok

Gandhi merupakan bagian dari tokoh perdamaian. Gandhi menjadi inspirasi bagi calon pemimpin-pemimpin dunia, terutama Asia dan Afrika.

Putra Aceh Jadi Delegasi Indonesia pada Konferensi Gandhi's 150 Birthday Anniversary di Bangkok
MUKHLISUDDIN ILYAS FOR SERAMBINEWS.COM
Para peserta mengikuti konferensi internasional "Gandhi's 150 Birthday Anniversary: Renewal of Non-Violent Movement in 21 Century Toward Peace Inspirations from Sacrifices of Afro-Asian Leaders", yang diselenggaran oleh Asian Resource Fondation dan International Institute of Peace ad Development Studies (IIPDS), pada 6-7 Juli 2019 di Nong Chok, Bangkok, Thailand. 

Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid.

Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.

Baca: Didukung Turki, Cina, dan Malaysia, Pakistan Gagalkan Upaya India Masukkan Negaranya ke Daftar Hitam

Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri.

Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri.

Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen.

Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.

Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela.

Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).

Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia diduga terlalu memihak kepada Muslim.(*)

Penulis: Safriadi Syahbuddin
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved