Gas Subsidi Dijual Rp 35 Ribu

Tim pengawasan gas bersubsidi 3 kg Pemerintah Aceh menemukan gas dijual Rp 35 ribu per tabuang oleh pengecer

Gas Subsidi Dijual Rp 35 Ribu
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Pekerja menaikkan tabung gas elpiji subsidi 3 Kg ke dalam kapal kayu, di Lampulo, Banda Aceh. 

* Pangkalan Segera Diberi Sanksi

SIGLI- Tim pengawasan gas bersubsidi 3 kg Pemerintah Aceh menemukan gas dijual Rp 35 ribu per tabuang oleh pengecer, akibat ulah pangkalan ‘nakal’. Pangkalan tersebut akan diberikan sanksi, berupa pengurangan kuota dan pemutusan hubungan kerja.

Sales Executive LPG Aceh, Unggul Adi Wibowo, Jumat (5/7) mengatakan, tim pengawasan Pemerintah Aceh menemukan harga elpiji 3 kg dijual pengecer di Pidie dan Pidie Jaya Rp 35 ribu per tabung. Dikatakan, rantai pemasaran gas bersubsidi itu panjang, hingga sampai kios pengecer.

“Rantai distribusi elpiji 3 kg dilarang sampai ke tangan pengecer,” kata Unggul Adi Wibowo, dalam rilis dikirim kepada Serambi, Jumat (5/7) saat melakukan sosialisasi pemanfaatan gas subsidi di tingkat pangkalan Pidie dan Pidie Jaya (Pijay).

Dia menjelaskan, sistem distribusi gas 3 kg bermula dari SPPBE yang disalurkan ke agen dan pangkalan. Lalu, pangkalan mendistribusikan langsung ke penerima manfaat atau warga. Pangkalan maupun agen, tegas Unggul, tidak boleh mendistribusikan ke kios pengecer.

Namun, lanjutnya, saat dilakukan sidak di lapangan, ternyata tim menemukan banyak pengecer yang ikut menjual gas subsidi di kios-kios. Bahkan, berdasarkan pengakuan pengecer, gas subsidi itu diperoleh dari tangan pihak ketiga, di mana ada pihak lain yang sengaja membeli gas dari pangkalan untuk kemudian di antarkan ke pengecer.

“Ada yang mengantar menggunakan beca ke pengecer. Kita membeli dari pengantar itu Rp 25 ribu, dan kios pengecer menjual lagi 35 ribu per tabung,” kata Unggul mengutip keterangan seorang pengecer.

Dia menambahkan, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk menindak pangkalan yang ‘nakal’ tersebut. Hanya saja, dia memberikan catatan atas temuan tersebut, sekaligus akan meminta agen sebagai pihak yang mendistribusikan gas ke pangkalan untuk memberikan sanksi, berupa pengurangan kuota gas hingga pemutusan hubungan kerja.

Kecuali itu, kata Unggul, pihaknya akan melakukan mapping atau menata kembali untuk melihat kabupaten/kota yang kebutuhan alokasi gas subsidinya tinggi dan rendah. Dengan demikian, distribusi gas akan tepat sasaran, melibatkan pemkab, karena dari pemkab diketahui salah satu izin usaha pangkalan harus dikeluarkan.

“Kita minta pemkab mencabut izin pangkalan nakal, jika ada yang menjual gas 3 ke kios pengecer dan cabut saja izinnya, sehingga dari sistem kita bisa juga mencabut,” tukas Unggul.

Kabag Pembinaan Indag ESDM dan Pariwisata Biro Perekonomian Setda Aceh, Anizar, menjelaskan, ia bersama dengan Dinas ESDM Aceh, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Aceh dan PT. Pertamina (Persero) memberikan sosialisasi pada penjual dan penerima manfaat dari gas 3 kg.

Pada tahap awal, katanya, tim pengawasan lintas instansi itu memberikan pemberitahuan kepada penjual di pangkalan hingga pengecer, bahwa gas subsidi hanya dikonsumsi rumah tangga miskin dan pelaku usaha industri rumahan.

Saat ini, kata Anizar, diketahui pendistribusian gas sering tidak tepat sasaran. Padahal, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, telah mengeluarkan surat edaran terkait larangan bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota se-Aceh, agar tidak menggunakan gas subsidi 3 kg. Surat edaran itu bernomor 540/8435, tanggal 13 Juni 2019, ditandatangani Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

“Larangan ini ditujukan, agar penggunaan LPG 3 kg bersubsidi tersebut, dapat disalurkan dengan tepat sasaran,” ujarnya. Dia menambahkan, di Pidie dan Pidie Jaya, elpiji bersubsidi harus dijual Rp 18 ribu. Bahkan, surat ketetapan bupati, hanya Kecamatan Tangse, Mane dan Geumpang diperbolehkan menjual Rp 19 ribu.

“Warga melapor pada kami, di mana mereka temukan adanya pangkalan di Pidie dan Pijay justru menjual gas Rp 20 ribu, meski pada plang resmi yang ditempelkan di depan pangkalan harga gas dijual Rp 18 ribu. Ketika dikonfirmasi ke pemilik pangkalan, mereka enggan mengakui dan tetap menegaskan menjual gas sesuai harga HET Rp 18 ribu,” pungkasnya.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved