Jurnalisme Warga

Kuatnya Daya Tarik Monumen Kopiah Meukutop

TSUNAMI yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 menyebabkan bibir pantai di sepanjang barat-selatan Aceh

Kuatnya Daya Tarik Monumen Kopiah Meukutop
IST
MUKHSINUDDIN, M.M., Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Meulaboh, melaporkan dari Pasie Suak Ujong Kalak, Meulaboh

OLEH MUKHSINUDDIN, M.M., Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Meulaboh, melaporkan dari Pasie Suak Ujong Kalak, Meulaboh

TSUNAMI yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 menyebabkan bibir pantai di sepanjang barat-selatan Aceh sampai ke Meulaboh hancur terkikis. Banyak pula bangunan yang porak-poranda. Salah satu bangunan di pinggir pantai yang hancur diterjang gelombang tsunami saat itu adalah Monumen Kopiah Meukutop, tempat ditembak dan gugurnya Teuku Umar Johan Pahlawan. Lokasinya berada di bibir pantai Pasie Suak Ujong Kalak, Meulaboh.

Tempat awalnya monumen itu berdiri, kini sudah menjadi lautan luas, menjadi bagian dari Samudra Hinda. Ketika Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berniat membangun kembali monumen tersebut beberapa tahun setelah tsunami, tak mungkin lagi membangun monumen serupa di tempat yang sama, karena sudah berubah jadi lautan.

Alhasil, monumen pengganti dibangun di atas daratan, tepatnya di jalan nasional Meulaboh-Banda Aceh. Di belaknag monumen itu ada Sungai Suak Ujong Kalak yang airnya mengalir ke Samudra Hindia. Sekarang monumen itu berdiri dengan megahnya.

Monumen ini biasanya digunakan ketika ada upacara peringatan gugurnya Teuku Umar, yakni setiap tanggal 11 Februari. Monumen tersebut dihiasai dengan lampu pada malam hari. Selain itu di lembar demi lembar pelat baja dipahatkan sejarah gugurnya Teuku Umar sampai perjalanan tapak tilas membawa jenazahnya ke Desa Mugo, Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat. Kita dapat membaca dengan jelas sejarah perjuangan Teuku Umar di dinding monumen tersebut karena disusun dengan apik oleh Teuku Ahmad Dadek SH saat ia menjadi Kepala Bappeda Aceh Barat dan sekarang menjabat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Bila ada tamu dari Jakarta, Medan, atau Banda Aceh, baik dari Kementerian Agama maupun tim asesor kampus dan lainnya yang datang ke Meulaboh pastilah mereka ingin melihat dan berfoto di tugu tersebut. Ya, sebagai kenang-kenangan dan tanda bukti bahwa mereka sudah pernah datang ke tempat yang bersejarah, titik gugurnya pahlawan nasional, Teuku Umar Johan Pahlawan.

Di dinding monumen itu dinukilkan bahwa Teuku Umar lahir di Meulaboh pada tahun 1854, tepatnya di Gampong Masjid yang sekarang adalah Gampong Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan. Sedangkan gugurnya pada 11 Februari 1899 di Pasie Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan.

Beliau hari ini telah menjadi pahlawan nasional dari Aceh, hal yang patut kita syukuri. Ia berjuang dengan strategi perang yang mampu mengecoh dua kali pasukan Belanda. Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan.

Teuku Umar juga menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, pemberani, dan menjadi motivator bagi kita semua anak bangsa Aceh yang mewarisi darah pahlawan dari banyak hero di bumi syariat ini.

Dalam sejarah gugurnya Teuku Umar disebutkan bahwa awal Februari 1899 Jenderal Van Heutsz mendapat laporan dari mata-matanya tentang rencana kedatangan Teuku Umar di Meulaboh. Lalu Van Heutz segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat di perbatasan Meulaboh. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya benar tiba di pinggiran Kota Meulaboh. Mereka sangat terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat mereka.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved