Opini

Pilar-pilar Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat

Tanggal 5 Juli 2019 Pemerintah Aceh Hebat genap berusia dua tahun. Namun diakui atau tidak, selama itu pula

Pilar-pilar Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat
Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Oleh Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Tanggal 5 Juli 2019 Pemerintah Aceh Hebat genap berusia dua tahun. Namun diakui atau tidak, selama itu pula capaian kemajuan nyaris seluruh bidang pembangunan tampaknya belum begitu mengembirakan. Pembangunan bidang ekonomi misalnya belum dapat mengurai permasalahan kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi di Aceh.

Nah, pada titik ini, sepertinya saya patut memberikan hadiah sebagai “kado ulang tahun” kepada pimpinan Aceh Hebat saat ini Ir. Nova Iriansyah, MT, mungkin hanya sekadar ucapan selamat sekaligus apresiasi saya atas keinginanya mereformasi Bank Aceh Syariat (BAS) sebagai salah satu upaya memajukan perkenomian masyarakat Aceh. Keinginan ini secara langsung disampaikan dalam pidatonya ketika merespon atas tujuh rekomendasi “Dialog Ekonomi Pembangunan Aceh Hebat” dalam “Forum Aceh Meusapat” yang digelar bersama tokoh-tokoh Aceh di Jakarta. (Serambi Indonesia, 1 Juli 2019). Saya berharap semoga respon Gubernur ini tidak hanya sekedar “political rhetoric”, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yaitu “political action”.

Saya sejak lama telah menyampaikan di banyak mimbar masjid, meunasah dan forum-forum lainnya, bahwa Aceh sebagai wilayah syariat semestinya menjalankan praktek perbankan terutama BAS baik pada dataran sistem maupun pelayanan harus benar-benar bersyariat. Apalagi perangkat hukum di Aceh telah mengamanatkan hal tersebut. Misalnya dalam Pasal 155 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) terkait arah Perekonomian Aceh dan Qanun Nomor 9 Tahun 2014 tentang Pembentukan Bank Aceh Syariah. Kedua ketentuan ini bertujuan mendorong terwujudnya perekonomian Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Dalam rangka membangkitkan denyut nadi ekonomi Aceh yang sampai kini masih terpuruk, masyarakat Aceh tentu masih menaruh harapan besar kepada BAS sebagai salah satu Bank Pemerintah yang telah dikonversikan menjadi Bank Syariah harus terbebas dari praktek yang bertentangan dengan norma agama. Namun, realita mengungkapkan dalam perjalanannya BAS telah menuai beragam pendapat miring terkait sistem dan praktek yang dijalankan menurut kebanyakan orang belum berprinsip syariat, terutama produk murabahah yang sangat digemari oleh pegawai dalam mengambil kredit.

Yang sangat ironi, pihak berwenang di BAS sendiri terkesan tidak bersuara (untuk tidak saya katakan bisu) untuk meluruskan berbagai pendapat miring tersebut, sehingga hujatan, sindiran, gonjang ganjing semakin menjadi-jadi di tengah masyarakat Aceh.

Syahdan, terlepas dari semua itu, penulis ingin menjelaskan bahwa secara teologis pembangunan ekonomi yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut dipastikan akan mendatangkan keberkahan bagi penduduk negeri (Alquran Surat Al A’raf Ayat 96). Salah satu ciri keberkahan itu masyarakat akan hidup dalam keharmonian dan kemakmuran, hal itulah sebenarnya yang hendak dibangun Islam di muka bumi.

Harmoni manusia, antara kebahagiaan spritual yang selaras dengan fitrah ciptaannya, kebahagiaan material yang juga menjadi kebutuhan dasarnya serta keadilan sosial yang menjadi kebutuhan rohaninya. Bahkan pembangunan ekonomi yang bercirikan pergerakan materi pun dalam perspektif Islam diwajibkan memenuhi kebutuhan harmoni dari ketiga kutub kehidupan itu.

Islam hadir dengan berbagai perlengkapan ajaran yang bersifat multidimensional akan menjadi tempat berpijak bagi peradaban manusia. Tantangan bagi kemanusiaan yang hakikatnya hampir tidak berbeda dari masa ke masa hanya saja corak dan bentuknya yang berbeda. Begitu pula dalam bidang pembangunan ekonomi, Islam menentang sistem-sistem tidak islami yang berlaku di dunia khususnya pada saat Nabi Muhammad SAW telah diutus.

Namun setelah kewafatan Baginda Nabi Muhammad SAW kaum muslimin telah menjalani sebuah perjalanan panjang terkait dengan pembangunan ekonomi umat ini, baik yang bersifat positif maupun yang negatif. Dalam kerangka sistem negara Islam pasang surut (fluktuasi) penerapan ajaran syariat tentang pembangunan ekonomi ini banyak tercatat dalam sejarah. Ada sosok khalifah yang sangat konsisten dengan sistem Islam sehingga pada zamannya amat terasa bahwa nilai agama ilahi ini dapat membawa kemakmuran, keharmonian dan kesejahteraan yang luar biasa kepada rakyatnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved