Soal Kelangkaan Premium, Begini Keluhan Warga Lhokseumawe dan Aceh Utara

Warga Lhokseumawe dan Aceh Utara kembali mengeluhkan sulitnya memperoleh premium di Stasun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di kawasan itu.

Soal Kelangkaan Premium, Begini Keluhan Warga Lhokseumawe dan Aceh Utara
SERAMBINEW.COM/TAUFIK ZASS
Kondisi di SPBU Labuhanhaji, Aceh Selatan pascahabisnya stok permium dan solar, Senin (3/6/2019). 

Laporan Jafaruddin | Lhoksemawe

SERAMBINEWS.COM,LHOKSEUMAWE – Warga Lhokseumawe dan Aceh Utara kembali mengeluhkan sulitnya memperoleh premium di Stasun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di kawasan itu.

Kendati kondisi ini sudah berlangsung lama, tapi belum ada solusi dari pihak terkait persoalan tersebut.

“Seingat saya sudah lebih setahun saya tidak mengisi premium lagi di kawasan Lhokseumawe. Karena ketika hendak mengisi premium, petugas selalu menyebutkan sudah habis. Kalaupun ada, tapi antrian cukup panjang, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkannya,” ujar Aiyub warga Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe kepada Serambinews.com, Senin (8/7/2019).

Disebutkan, dirinya selama ini terpaksa mengisi pertalite, meskipun harganya lebih mahal dari premium.

Baca: Pertamina Kembali Tambah Jatah BBM Buat Aceh, Premium Sampai 28 Persen  

Baca: Premium dan Solar Kosong, Hanya Ada Pertamax di Aceh Selatan

Baca: Antrean Premium untuk Lebaran Mengular di Banda Aceh

“Anehnya di kawasan Medan premium lebih mudah kita dapatkan. Bahkan saya tidak pernah saya melihat antrian, kalaupun ada antrian tapi sepanjang seperti di tempat kita. Padahal sepeda motor dan mobil sudah pasti lebih banyak di sana,” ujar Aiyub.

Sementara itu Mulyadi, warga Kecamatan Samudera Aceh Utara kepada Serambi menyebutkan, pernah melihat di sebuah SPBU di Aceh Utara sebuah mobil Avanza mengisi premium sampai Rp 1 juta.

Padahal kalau tangki kosong, hanya bisa diisi 45 liter atau Rp 315.000, karena harga premium saat ini Rp 7.000/liter.

“Kemungkinan besar ini penyebab kelangkaan premium. Selain itu, saya juga sempat melihat di SPBU yang berada di Aceh Utara, pihak SPBU lebih mengutamakan menjual premium ke warga yang menggunakan jeriken, dibandingkan kepada pengguna sepmor. Karena untung yang didapatkan lebih banyak,” katanya.

Harga yang dijual pihak SPBU kepada warga yang menggunakan jeriken Rp 8 ribu sampai Rp 8.500.

“Informasi saya dengar dari masyarakat, mobil yang menggunakan tanki modifikasi itu juga dilindungi oleh aparat, karena juga mendapatkan keuntungan,” katanya.

Karena itu Pertamina harus meminta supaya SPBU memasang CCTV untuk memantau kondisi tersebut.

Sementara itu Kepala TBBM Pertamina Lhokseumawe Bunair kepada Serambi menyebutkan, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Branch Aceh sudah mengintruksikan kepada SPBU untuk memasang CCTV di lokasi mereka masing-masing, untuk memudahkan memantau penjualan BBM kepada masyarakat.

“Penjualan premium kepada warga yang menggunakan jeriken itu memang tidak dibenarkan. Yang dibolehkan jual premium kepada pedagang yang sudah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah. Kalau untuk mobil yang memodifikasi tanki, itu wewenang dari polisi,” katanya. (*)

Penulis: Jafaruddin
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved